Streptomisin
Streptomisin adalah salah satu antibiotik golongan aminoglikosida yang pertama kali ditemukan dan digunakan secara luas dalam pengobatan tuberkulosis. Antibiotik ini diisolasi dari bakteri tanah *Streptomyces griseus* pada tahun 1943 oleh Selman Waksman dan timnya. Penemuan streptomisin menjadi tonggak penting dalam sejarah kedokteran karena memberikan alternatif efektif untuk mengatasi penyakit menular yang sebelumnya sulit diobati. Selain tuberkulosis, streptomisin juga digunakan untuk mengobati berbagai infeksi bakteri lain yang rentan terhadapnya.
Sejarah Penemuan
Streptomisin ditemukan di Amerika Serikat pada awal 1940-an oleh Selman Waksman, seorang ahli mikrobiologi yang meneliti bakteri tanah. Tim penelitiannya berhasil mengisolasi senyawa aktif dari *Streptomyces griseus* yang memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri patogen. Penemuan ini memberikan terobosan besar dalam bidang farmakologi dan mikrobiologi, serta mengantarkan Waksman menerima Penghargaan Nobel dalam Fisiologi atau Kedokteran pada tahun 1952.
Mekanisme Kerja
Streptomisin bekerja dengan mengikat bagian kecil dari ribosom bakteri, khususnya subunit 30S, sehingga mengganggu proses sintesis protein. Hal ini menyebabkan kesalahan dalam penerjemahan kode genetik dan memproduksi protein abnormal, yang pada akhirnya membunuh bakteri. Mekanisme ini membuat streptomisin efektif terhadap berbagai bakteri gram negatif dan beberapa bakteri gram positif.
Kegunaan Klinis
Penggunaan streptomisin dalam dunia medis mencakup:
- Mengobati tuberkulosis bersama dengan obat lain seperti isoniazid dan rifampisin.
- Mengatasi infeksi yang disebabkan oleh bakteri *Yersinia pestis*, penyebab pes.
- Mengobati brusellosis dalam kombinasi dengan tetrasiklin.
- Mengendalikan infeksi tertentu pada endokarditis bakterial.
- Mengobati tularemia yang disebabkan oleh *Francisella tularensis*.
Efek Samping
Seperti antibiotik aminoglikosida lainnya, streptomisin dapat menyebabkan efek samping yang cukup serius. Efek yang paling umum adalah ototoksisitas, yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran permanen. Selain itu, streptomisin juga dapat menimbulkan nefrotoksisitas yang mempengaruhi fungsi ginjal. Reaksi alergi seperti ruam kulit dan demam juga dapat terjadi pada beberapa pasien.
Resistansi Bakteri
Penggunaan streptomisin yang tidak tepat dapat menyebabkan timbulnya resistansi antibiotik. Bakteri yang mengalami mutasi pada gen tertentu dapat mengubah struktur ribosom sehingga streptomisin tidak lagi efektif. Fenomena resistansi ini menjadi masalah global dalam pengendalian penyakit menular, khususnya tuberkulosis resisten obat.
Interaksi Obat
Streptomisin dapat berinteraksi dengan obat lain, terutama yang juga memiliki efek nefrotoksik atau ototoksik. Penggunaan bersama dengan antibiotik aminoglikosida lain atau obat diuretik seperti furosemid dapat meningkatkan risiko kerusakan ginjal dan pendengaran. Oleh karena itu, pemantauan ketat diperlukan ketika pasien menerima kombinasi obat tersebut.
Penggunaan dalam Kedokteran Hewan
Selain digunakan pada manusia, streptomisin juga dipakai dalam bidang kedokteran hewan untuk mengobati infeksi bakteri pada ternak. Misalnya, streptomisin digunakan untuk mengatasi brusellosis pada sapi dan kambing, serta infeksi bakteri lain yang mempengaruhi kesehatan hewan ternak. Namun, penggunaannya diatur secara ketat untuk menghindari residu antibiotik dalam produk pangan.
Produksi dan Formulasi
Streptomisin diproduksi melalui proses fermentasi bakteri *Streptomyces griseus*. Setelah diisolasi dan dimurnikan, streptomisin biasanya tersedia dalam bentuk garam sulfat untuk memudahkan pelarutan dalam air. Formulasi yang umum digunakan adalah injeksi intramuskular, karena penyerapan streptomisin melalui saluran pencernaan relatif buruk.
Regulasi dan Pengawasan
Karena potensi efek samping dan masalah resistansi, penggunaan streptomisin diawasi oleh otoritas kesehatan nasional maupun internasional. Organisasi seperti WHO memberikan pedoman ketat mengenai indikasi, dosis, dan durasi penggunaan streptomisin, khususnya dalam pengobatan tuberkulosis. Pemerintah negara-negara juga menetapkan peraturan terkait distribusi dan resep obat ini.
Peran dalam Riset Ilmiah
Streptomisin, selain sebagai obat, juga digunakan dalam penelitian ilmiah. Misalnya, streptomisin dipakai dalam media kultur mikrobiologi untuk mencegah kontaminasi oleh bakteri tertentu. Penggunaan ini membantu para peneliti bekerja dengan spesimen yang lebih bersih dan terkontrol dalam studi bioteknologi dan genetika.
Kontroversi dan Tantangan
Meskipun streptomisin adalah salah satu antibiotik penting dalam sejarah, penggunaannya kini semakin terbatas karena munculnya resistansi dan efek samping yang serius. Tantangan terbesar adalah memastikan obat ini tetap efektif melalui penggunaan yang bijak dan terkendali. Perdebatan juga muncul terkait peran streptomisin dalam pengobatan modern, di mana banyak antibiotik baru telah dikembangkan untuk menggantikan atau melengkapi penggunaannya.