Eosinofil
Eosinofil adalah jenis sel darah putih atau leukosit yang merupakan bagian penting dari sistem kekebalan tubuh manusia dan hewan vertebrata lainnya. Sel-sel ini diproduksi di sumsum tulang dan matang sebelum dilepaskan ke dalam aliran darah. Nama "eosinofil" berasal dari afinitasnya yang kuat terhadap pewarna eosin, yang memberikan warna merah muda atau merah ceri pada sitoplasmanya ketika dilihat di bawah mikroskop. Peran utama eosinofil adalah dalam pertahanan tubuh terhadap parasit dan dalam modulasi reaksi alergi. Meskipun jumlahnya relatif kecil dibandingkan dengan jenis leukosit lain, peran fungsionalnya sangat signifikan dalam menjaga kesehatan.
Morfologi dan Struktur
Eosinofil adalah sel berukuran sedang, biasanya berdiameter sekitar 12-17 mikrometer. Ciri khas utamanya adalah granula sitoplasma yang besar dan terang yang memenuhi sel. Granula ini mengandung berbagai macam protein dan enzim yang dilepaskan saat aktivasi sel. Inti sel eosinofil biasanya bersifat bilobus atau terkadang trilobus, yang berarti terbagi menjadi dua atau tiga lobus yang dihubungkan oleh benang kromatin tipis. Sitoplasma di antara granula tampak pucat. Struktur granula ini sangat penting karena mengandung mediator inflamasi dan toksik yang berperan dalam fungsi eosinofil.
Perkembangan dan Produksi
Eosinofil berkembang dari sel punca hematopoietik di sumsum tulang melalui jalur diferensiasi myelopoiesis. Proses ini melibatkan beberapa tahapan matang, termasuk mieloblas, promielosit, mielosit, metamielosit, dan bentuk batang (band form) sebelum akhirnya menjadi eosinofil matang. Perkembangan dan pelepasan eosinofil ke dalam sirkulasi dipengaruhi oleh berbagai sitokin, terutama Interleukin-5 (IL-5). IL-5 adalah sitokin kunci yang mengatur proliferasi, diferensiasi, pematangan, dan kelangsungan hidup eosinofil.
Fungsi dalam Sistem Kekebalan Tubuh
Peran utama eosinofil dalam sistem kekebalan tubuh adalah pertahanan terhadap infeksi parasit multiseluler, seperti cacing. Eosinofil dapat mengenali dan menempel pada permukaan parasit, kemudian melepaskan isi granula mereka yang bersifat toksik untuk membunuh atau melumpuhkan parasit tersebut. Selain itu, eosinofil juga terlibat dalam respons imun terhadap patogen lain dan dalam proses inflamasi kronis.
Peran dalam Reaksi Alergi
Eosinofil memainkan peran sentral dalam patogenesis penyakit alergi, seperti asma, rinitis alergi, dan dermatitis atopik. Dalam kondisi alergi, eosinofil direkrut ke jaringan yang terkena akibat stimulasi oleh IgE dan mediator inflamasi lain yang dilepaskan oleh sel mast dan basofil. Setelah teraktivasi, eosinofil melepaskan berbagai mediator yang berkontribusi terhadap gejala alergi, termasuk kerusakan epitel, peningkatan permeabilitas vaskular, dan bronkokonstriksi.
Jenis Granula Eosinofil
Granula eosinofil dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis utama: granula primer (besar) dan granula sekunder (kecil).
- Granula primer (spesifik) mengandung protein seperti major basic protein (MBP), eosinophil cationic protein (ECP), eosinophil peroxidase (EPO), dan eosinophil-derived neurotoxin (EDN). Protein-protein ini bersifat toksik terhadap parasit dan sel epitel.
- Granula sekunder (matriks) mengandung enzim seperti histaminase dan arylsulfatase, yang berperan dalam menetralkan mediator inflamasi.
Patologi yang Berkaitan dengan Eosinofil
Peningkatan jumlah eosinofil dalam darah, yang dikenal sebagai eosinofilia, dapat menjadi indikator berbagai kondisi medis.
- Infeksi parasit.
- Reaksi alergi.
- Penyakit autoimun.
- Keganasan tertentu.
- Beberapa jenis pneumonia.
- Penggunaan obat-obatan tertentu.
Sebaliknya, penurunan jumlah eosinofil (eosinopenia) umumnya tidak memiliki signifikansi klinis yang besar, tetapi dapat terlihat pada stres akut atau penggunaan kortikosteroid.
Diagnosis dan Pengukuran
Jumlah eosinofil dalam darah biasanya diukur sebagai bagian dari hitung darah lengkap (Complete Blood Count/CBC). Hasil CBC akan menunjukkan persentase dan jumlah absolut eosinofil. Pemeriksaan lebih lanjut, seperti apusan darah tepi, dapat membantu mengkonfirmasi keberadaan eosinofil dan menilai morfologinya. Analisis jumlah eosinofil pada cairan tubuh lain, seperti dahak atau bilasan bronkoalveolar, juga dapat dilakukan untuk mendiagnosis kondisi spesifik.
Eosinofil dalam Jaringan
Selain beredar dalam darah, eosinofil juga dapat ditemukan di berbagai jaringan tubuh, terutama di saluran pernapasan, saluran pencernaan, dan kulit. Keberadaan eosinofil dalam jaringan ini sering kali dikaitkan dengan proses inflamasi kronis, terutama pada kondisi alergi dan infeksi parasit. Konsentrasi eosinofil jaringan dapat jauh lebih tinggi dibandingkan dalam sirkulasi.
Mediator yang Dihasilkan Eosinofil
Eosinofil melepaskan berbagai macam mediator yang memiliki efek signifikan pada jaringan dan sel lain. Mediator ini meliputi:
- Protein granula (MBP, ECP, EPO, EDN): Bersifat toksik dan dapat merusak sel.
- Lipid mediator: Seperti leukotrien (misalnya LTC4), yang berperan dalam inflamasi, bronkokonstriksi, dan peningkatan permeabilitas vaskular.
- Sitokin: Eosinofil dapat menghasilkan sitokin seperti IL-4, IL-5, dan IL-13, yang dapat memengaruhi respons imun dan inflamasi lebih lanjut.
Interaksi dengan Sel Lain
Eosinofil berinteraksi dengan berbagai jenis sel lain dalam sistem kekebalan tubuh. Mereka dapat berinteraksi dengan sel endotel, fibroblas, dan sel epitel, yang memengaruhi integritas jaringan. Eosinofil juga dapat berinteraksi dengan neutrofil, limfosit, dan sel makrofag, memodulasi respons imun secara keseluruhan. Interaksi ini sering kali dimediasi oleh molekul adhesi dan sitokin.
Regulasi Fungsi Eosinofil
Fungsi eosinofil diatur secara ketat oleh berbagai faktor. Selain IL-5, sitokin lain seperti GM-CSF dan IL-3 juga berperan dalam perkembangan dan aktivasi eosinofil. Kortikosteroid memiliki efek supresif yang kuat terhadap fungsi eosinofil, termasuk menurunkan jumlahnya dalam darah dan menekan pelepasan mediator inflamasi.
Penelitian dan Terapi Masa Depan
Penelitian terus dilakukan untuk memahami peran eosinofil secara lebih mendalam, terutama dalam penyakit inflamasi kronis dan kanker. Terapi yang menargetkan eosinofil atau mediator yang mereka hasilkan sedang dikembangkan untuk pengobatan penyakit seperti asma berat. Contohnya adalah penggunaan antibodi monoklonal yang menargetkan IL-5 atau reseptornya.