Lichen
Lichen atau lumut kerak adalah organisme komposit yang terbentuk melalui hubungan erat antara fungi dan organisme fotosintetik, terutama alga hijau atau sianobakteri. Lichen dapat ditemukan pada batuan, kulit pohon, tanah, kayu lapuk, serta berbagai permukaan lain. Meskipun secara kasatmata tampak seperti satu organisme, lichen merupakan sistem biologis yang tersusun atas beberapa komponen dengan fungsi berbeda.
Istilah lichen berasal dari bahasa Yunani yang berarti “kulit” atau “lapisan”. Dalam bahasa Indonesia, istilah lumut kerak digunakan karena bentuknya sering menyerupai kerak yang melekat pada substrat, walaupun lichen bukanlah lumut dalam pengertian botani. Komponen fungi disebut mycobiont, sedangkan komponen fotosintetik disebut photobiont atau fotobion. Sebagian besar spesies lichen diklasifikasikan berdasarkan fungi penyusunnya.

Hubungan simbiosis
Hubungan antara mycobiont dan photobiont secara tradisional disebut simbiosis mutualistik. Fungi menyediakan tempat hidup, perlindungan fisik, air, mineral, dan struktur yang membantu penyerapan zat dari lingkungan. Sebaliknya, alga menghasilkan senyawa organik melalui fotosintesis, sedangkan sianobakteri juga dapat melakukan fiksasi nitrogen yang menyediakan sumber nitrogen bagi sistem lichen.
Hubungan tersebut tidak selalu sepenuhnya menguntungkan bagi semua komponennya. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa fungi dapat mengendalikan pertumbuhan organisme fotosintetik dan mengambil sebagian besar hasil fotosintesisnya. Oleh sebab itu, lichen kini sering dipahami sebagai jaringan interaksi biologis yang kompleks, bukan sekadar hubungan dua organisme yang sederhana. Selain fungi utama, lichen dapat mengandung ragi, bakteri, dan mikroorganisme lain yang membentuk mikrobioma.
Struktur dan morfologi
Tubuh lichen disebut thallus atau talus. Talus tidak memiliki akar, batang, dan daun sejati seperti tumbuhan berpembuluh. Bentuknya sangat beragam, mulai dari lapisan tipis yang menempel kuat pada permukaan hingga struktur bercabang dan menyerupai semak kecil. Warna talus dipengaruhi oleh pigmen fotosintetik, senyawa pelindung, kadar air, dan kondisi lingkungan.
Berdasarkan bentuk pertumbuhannya, lichen biasanya dikelompokkan ke dalam beberapa tipe utama:
- Lichen krustos, yang membentuk lapisan tipis dan melekat sangat kuat pada substrat.
- Lichen folios, yang memiliki lobus pipih menyerupai lembaran dan sebagian terangkat dari permukaan.
- Lichen frutikos, yang tumbuh tegak atau menggantung dalam bentuk bercabang seperti semak atau rambut.
- Lichen skuamulosa, yang tersusun atas sisik-sisik kecil dan sering menjadi bentuk peralihan antara krustos dan folios.
- Lichen gelatinosa, yang menjadi lunak dan menyerupai jeli ketika basah, umumnya karena mengandung sianobakteri.
Anatomi
Pada banyak lichen, talus tersusun atas beberapa lapisan. Lapisan korteks bagian luar terdiri atas hifa fungi yang rapat dan berfungsi sebagai pelindung. Di bawahnya terdapat lapisan alga, yaitu wilayah tempat organisme fotosintetik berada di antara jaringan hifa. Bagian tengah biasanya berupa medula yang tersusun atas hifa lebih longgar, sedangkan permukaan bawah pada lichen folios dapat memiliki struktur penempel yang disebut rhizine.
Lichen tidak memiliki jaringan pengangkut seperti xilem dan floem. Air serta mineral diserap melalui seluruh permukaan talus dan dipindahkan melalui jaringan hifa. Karena itu, lichen sangat bergantung pada kelembapan lingkungan dan umumnya tumbuh lambat. Beberapa spesies mampu bertahan dalam keadaan kering dengan menghentikan sementara aktivitas metabolismenya.
Reproduksi dan penyebaran
Lichen dapat berkembang biak secara seksual maupun aseksual. Reproduksi seksual dilakukan oleh fungi penyusunnya melalui pembentukan struktur penghasil spora, seperti apothecium atau perithecium. Spora fungi yang dilepaskan harus menemukan pasangan fotosintetik yang sesuai agar dapat membentuk lichen baru.
Reproduksi aseksual memungkinkan penyebaran seluruh pasangan simbion secara bersamaan. Struktur seperti soredia terdiri atas sel alga yang dikelilingi hifa fungi, sedangkan isidia merupakan tonjolan kecil pada permukaan talus yang dapat terlepas dan tumbuh menjadi individu baru. Fragmentasi talus juga dapat menghasilkan unit penyebaran apabila bagian yang terlepas mengandung fungi dan organisme fotosintetik.
Habitat dan ekologi
Lichen hidup di hampir semua wilayah daratan, termasuk hutan hujan, padang rumput, gurun, tundra, dan kawasan pegunungan. Beberapa spesies mampu tumbuh pada batuan yang gundul sehingga berperan dalam proses awal suksesi ekologis. Asam organik yang dihasilkan lichen dapat membantu melapukkan mineral batuan dan berkontribusi terhadap pembentukan tanah.
Lichen juga menyediakan habitat dan sumber makanan bagi berbagai organisme. Serangga kecil, tungau, siput, dan sejumlah hewan lain memanfaatkan talus sebagai tempat berlindung atau pakan. Pada ekosistem kutub dan subkutub, lichen menjadi salah satu sumber makanan penting bagi rusa kutub dan beberapa herbivor lainnya. Keberadaannya turut memengaruhi siklus karbon, nitrogen, dan mineral dalam ekosistem.
Fisiologi dan adaptasi
Lichen memiliki toleransi yang tinggi terhadap kekeringan, suhu rendah, radiasi ultraviolet, dan kondisi miskin nutrien. Dalam keadaan kering, sebagian besar aktivitas fisiologisnya berhenti, tetapi sel-selnya tetap hidup. Ketika memperoleh air, proses fotosintesis dan metabolisme dapat berlangsung kembali. Kemampuan ini disebut poikilohydry dan menjadi salah satu dasar keberhasilan lichen menghuni lingkungan ekstrem.
Pertumbuhan lichen berlangsung sangat lambat dan kecepatannya berbeda menurut spesies serta kondisi habitat. Sebagian lichen hanya bertambah beberapa milimeter per tahun, sedangkan jenis tertentu dapat tumbuh lebih cepat pada lingkungan yang lembap dan kaya cahaya. Senyawa sekunder seperti asam lichenat membantu melindungi talus dari radiasi, herbivori, mikroorganisme pesaing, dan tekanan lingkungan lainnya.
Klasifikasi
Sebagian besar fungi pembentuk lichen termasuk ke dalam Ascomycota, sementara sebagian lainnya termasuk Basidiomycota. Organisme fotosintetiknya dapat berasal dari beberapa kelompok alga hijau atau sianobakteri. Karena lichen merupakan bentuk kehidupan simbiotik, klasifikasinya terutama mengikuti identitas fungi utama, meskipun komponen nonfungi juga penting untuk kajian ekologis dan evolusioner.
Penentuan jenis lichen dilakukan melalui pengamatan morfologi talus, struktur reproduktif, ciri mikroskopis, reaksi kimia, dan analisis DNA. Metode molekuler telah menunjukkan bahwa beberapa lichen yang tampak serupa ternyata tidak berkerabat dekat. Sebaliknya, satu kelompok fungi dapat membentuk asosiasi dengan beberapa organisme fotosintetik yang berbeda.
Lichen sebagai bioindikator
Lichen peka terhadap perubahan kualitas udara karena menyerap air dan zat terlarut langsung dari atmosfer. Polutan seperti sulfur dioksida, nitrogen oksida, amonia, logam berat, dan partikel halus dapat menghambat pertumbuhan atau mengubah komposisi komunitas lichen. Oleh karena itu, keberadaan dan kelimpahan spesies tertentu sering digunakan sebagai bioindikator pencemaran udara.
Pemantauan lichen dapat dilakukan dengan mencatat jumlah spesies, tutupan talus, perubahan warna, dan kandungan unsur pencemar. Metode ini relatif murah dan dapat memberikan gambaran jangka panjang karena lichen tumbuh menetap pada substrat. Namun, interpretasi hasil harus mempertimbangkan kelembapan, jenis substrat, iklim, umur pohon, dan faktor lingkungan lainnya.
Pemanfaatan oleh manusia
Lichen telah dimanfaatkan dalam berbagai kebudayaan sebagai bahan pangan darurat, pewarna, bahan pengharum, dan obat tradisional. Beberapa jenis menghasilkan pigmen yang digunakan untuk mewarnai kain, sedangkan ekstraknya pernah digunakan dalam produk farmasi dan kosmetik. Lichen tertentu juga dipakai dalam pembuatan indikator lakmus, meskipun penggunaannya kini banyak digantikan oleh bahan sintetis.
Dalam penelitian modern, senyawa yang dihasilkan lichen dikaji karena memiliki potensi aktivitas antibakteri, antijamur, antioksidan, dan antiinflamasi. Akan tetapi, potensi biologis tersebut tidak selalu berarti aman untuk dikonsumsi. Identifikasi spesies, dosis, metode ekstraksi, dan pengujian toksikologi diperlukan sebelum suatu senyawa lichen dapat digunakan secara medis.
Ancaman dan konservasi
Ancaman terhadap lichen meliputi pencemaran udara, perubahan iklim, penggundulan hutan, perubahan tata guna lahan, kebakaran, dan pengambilan berlebihan. Perubahan suhu dan pola curah hujan dapat memengaruhi keseimbangan antara fungi dan organisme fotosintetik. Spesies yang tumbuh lambat atau memiliki habitat sangat khusus cenderung lebih rentan terhadap gangguan.
Upaya konservasi lichen dilakukan melalui perlindungan habitat, pengurangan emisi pencemar, pemeliharaan pohon tua, dan pemantauan komunitas secara berkala. Konservasi in situ lebih diutamakan karena lichen memiliki hubungan erat dengan substrat, mikroklimat, dan komunitas mikroorganisme di sekitarnya. Koleksi ex situ dan kultur laboratorium dapat membantu penelitian, tetapi tidak selalu mampu menggantikan kondisi ekologis alaminya.
Penelitian
Penelitian lichen mencakup bidang taksonomi, ekologi, fisiologi, kimia bahan alam, genomika, dan perubahan lingkungan. Analisis genom serta teknik pengurutan DNA membantu mengungkap hubungan evolusioner antara fungi, alga, sianobakteri, dan mikroorganisme pendamping. Penelitian ini juga memperluas pemahaman mengenai bagaimana organisme berbeda mempertahankan kerja sama dalam kondisi lingkungan yang berubah.
Lichen merupakan contoh penting tentang kemampuan organisme untuk membentuk sistem kehidupan yang kompleks. Keberadaannya memperlihatkan bahwa batas antara individu, komunitas, dan ekosistem dapat menjadi tidak tegas pada hubungan simbiosis. Selain memiliki nilai ekologis dan ilmiah, lichen juga menyediakan informasi mengenai sejarah gangguan lingkungan serta perubahan kualitas habitat dalam jangka panjang.