Hiperaldoateronisme Sekunder

Revision as of 10:30, 30 July 2025 by Budi (talk | contribs) (Batch created by Azure OpenAI)
(diff) ← Older revision | Latest revision (diff) | Newer revision → (diff)

Hiperaldoateronisme sekunder merupakan kondisi di mana terjadi peningkatan produksi aldosteron akibat rangsangan dari luar kelenjar adrenal. Berbeda dengan hiperaldoateronisme primer, penyebab utama kondisi ini berkaitan dengan gangguan pada ginjal, jantung, atau sistem vaskular lain yang memicu aktivasi sistem renin-angiotensin-aldosteron.

Penyebab Umum

Hiperaldoateronisme sekunder sering disebabkan oleh gagal jantung kongestif, sirosis hati, nefrosis, atau stenosis arteri renalis. Kondisi-kondisi tersebut menyebabkan penurunan perfusi ginjal, sehingga ginjal merespons dengan meningkatkan sekresi renin dan, pada akhirnya, aldosteron.

Gejala dan Dampak

Gejala yang muncul mirip dengan hiperaldoateronisme primer, seperti hipertensi, kelemahan otot, poliuria, dan gangguan elektrolit khususnya hipokalemia. Namun, penanganan hiperaldoateronisme sekunder harus difokuskan pada penyebab dasarnya, seperti memperbaiki fungsi jantung atau ginjal.

Penatalaksanaan

Terapi pada hiperaldoateronisme sekunder melibatkan penanganan penyakit primer yang mendasari serta penggunaan antagonis aldosteron bila diperlukan. Pengawasan kadar elektrolit dan fungsi ginjal penting untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.