Hipertensi, atau tekanan darah tinggi, merupakan kondisi medis kronis di mana tekanan darah di dalam arteri meningkat secara persisten. Kondisi ini dikenal juga sebagai "silent killer" karena seringkali tidak menimbulkan gejala yang jelas, namun dapat menyebabkan komplikasi serius seperti stroke, gagal ginjal, dan penyakit jantung koroner apabila tidak ditangani dengan baik. Secara global, hipertensi merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan, sehingga penting untuk memahami penyebab, gejala, diagnosis, serta cara pencegahan dan pengelolaannya.

Definisi dan Klasifikasi Hipertensi

Hipertensi didefinisikan ketika tekanan darah sistolik (tekanan saat jantung berkontraksi) berada di atas 140 mmHg dan/atau tekanan darah diastolik (tekanan saat jantung relaksasi) di atas 90 mmHg secara konsisten. Menurut pedoman dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan American Heart Association, hipertensi diklasifikasikan menjadi beberapa derajat, antara lain hipertensi derajat satu (tekanan sistolik 140-159 mmHg atau diastolik 90-99 mmHg), derajat dua (160-179/100-109 mmHg), dan hipertensi berat (≥180/≥110 mmHg). Selain itu, terdapat istilah hipertensi primer (esensial) yang tidak diketahui penyebab pastinya, dan hipertensi sekunder yang disebabkan oleh kondisi medis lain seperti penyakit ginjal, gangguan hormon, atau penggunaan obat-obatan tertentu.

Penyebab dan Faktor Risiko

Sebagian besar kasus hipertensi bersifat primer, artinya tidak disebabkan oleh penyakit lain. Namun, beberapa faktor risiko utama telah diidentifikasi berkontribusi terhadap perkembangan hipertensi, seperti usia lanjut, riwayat keluarga, obesitas, konsumsi garam berlebih, kurang aktivitas fisik, stres kronis, serta kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol. Pada hipertensi sekunder, penyebabnya dapat meliputi penyakit ginjal kronis, hiperaldosteronisme, obstructive sleep apnea, dan penggunaan obat seperti steroid atau pil kontrasepsi oral.

Gejala dan Komplikasi Hipertensi

Hipertensi sering tidak menimbulkan gejala spesifik hingga terjadi komplikasi pada organ target. Namun, pada sebagian kasus, penderita dapat merasakan sakit kepala, pusing, penglihatan kabur, mimisan, atau mudah lelah. Komplikasi jangka panjang akibat tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol meliputi kerusakan pada jantung, otak, ginjal, dan pembuluh darah. Komplikasi ini dapat berupa serangan jantung, stroke, gagal jantung, gagal ginjal, aneurisma aorta, dan retinopati hipertensif.

Diagnosis Hipertensi

Diagnosis hipertensi ditegakkan berdasarkan pengukuran tekanan darah secara berulang dengan alat sfigmomanometer dalam kondisi tenang. Selain itu, pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan laboratorium darah, urinalisis, elektrokardiogram (EKG), dan ekokardiografi dapat dilakukan untuk menilai adanya kerusakan organ target dan mencari penyebab sekunder. Pemantauan tekanan darah di rumah (home blood pressure monitoring) atau dengan alat ambulatori selama 24 jam juga dapat membantu dalam penegakan diagnosis dan evaluasi respons terapi.

Dampak Hipertensi pada Kesehatan Masyarakat

Hipertensi telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang besar di dunia, termasuk di Indonesia. Prevalensi hipertensi terus meningkat seiring perubahan gaya hidup, pola makan, dan urbanisasi. Biaya pengelolaan hipertensi dan komplikasinya sangat tinggi, baik bagi individu maupun sistem kesehatan. Oleh karena itu, program deteksi dini, edukasi masyarakat, dan promosi gaya hidup sehat sangat diperlukan untuk menekan angka kejadian dan komplikasi hipertensi.

Tanda dan Gejala Hipertensi yang Perlu Diwaspadai

  1. Sakit kepala berat yang terjadi terutama di pagi hari
  2. Penglihatan kabur atau gangguan penglihatan
  3. Pusing atau sensasi melayang
  4. Mimisan tanpa sebab yang jelas
  5. Mudah lelah atau lemas
  6. Nyeri dada atau sesak napas
  7. Palpitasi (jantung berdebar)
  8. Pembengkakan pada tungkai atau kaki
  9. Tanda-tanda kerusakan organ target seperti gangguan fungsi ginjal atau penurunan kesadaran

Penatalaksanaan dan Pengelolaan Hipertensi

Penatalaksanaan hipertensi bertujuan untuk menurunkan tekanan darah hingga ke kisaran normal dan mencegah komplikasi. Pendekatan utama meliputi perubahan gaya hidup dan, jika diperlukan, pemberian terapi farmakologis. Modifikasi gaya hidup mencakup pengurangan konsumsi garam, peningkatan aktivitas fisik, penurunan berat badan, berhenti merokok, dan pembatasan konsumsi alkohol. Obat antihipertensi seperti diuretik, ACE inhibitor, beta blocker, calcium channel blocker, atau angiotensin receptor blocker (ARB) dapat diresepkan sesuai indikasi dan kondisi pasien. Pemantauan tekanan darah secara rutin serta kepatuhan terhadap pengobatan sangat penting untuk mencapai target terapi.

Pencegahan Hipertensi

Strategi pencegahan hipertensi melibatkan upaya promotif dan preventif di tingkat individu maupun masyarakat. Edukasi mengenai pentingnya diet seimbang rendah garam, konsumsi buah dan sayur, menjaga berat badan ideal, serta mengelola stres secara efektif dapat membantu menurunkan risiko hipertensi. Pemeriksaan tekanan darah secara berkala, terutama pada individu dengan faktor risiko, juga sangat dianjurkan untuk mendeteksi dini dan mencegah perkembangan komplikasi lebih lanjut.