Virus Zika adalah virus yang termasuk ke dalam genus Flavivirus dan keluarga Flaviviridae. Virus ini pertama kali diidentifikasi pada tahun 1947 di hutan Zika, Uganda, dari seekor monyet yang dijadikan subjek penelitian. Penularan virus Zika dapat terjadi melalui gigitan nyamuk dari genus Aedes, terutama Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Infeksi virus Zika pada manusia umumnya menyebabkan gejala ringan, namun dapat berimplikasi serius pada kehamilan karena terkait dengan risiko mikrosefali dan kelainan perkembangan sistem saraf pada janin.

Sejarah Penemuan

Virus Zika pertama kali ditemukan oleh para peneliti di Institut Penelitian Virus Rockefeller ketika tengah melakukan penelitian terhadap demam kuning. Penemuan ini terjadi di hutan Zika, Uganda, pada tahun 1947. Kasus pertama pada manusia dilaporkan di Nigeria pada tahun 1954. Selama beberapa dekade setelah penemuan, virus ini jarang dilaporkan dan dianggap tidak menimbulkan ancaman besar bagi kesehatan masyarakat.

Pada awal abad ke-21, terjadi beberapa wabah besar di kawasan Pasifik, termasuk di Yap, Polinesia Prancis, dan Kepulauan Samoa. Wabah yang paling signifikan terjadi di Brasil pada tahun 2015–2016, yang dikaitkan dengan peningkatan kasus mikrosefali pada bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi selama masa kehamilan.

Struktur dan Klasifikasi

Virus Zika memiliki struktur yang mirip dengan virus lain dalam genus Flavivirus. Partikel virus berbentuk ikosahedral dengan diameter sekitar 40 nanometer, diselubungi oleh membran lipid yang mengandung protein amplop (E protein). Genom virus Zika terdiri atas RNA untai tunggal dengan polaritas positif, panjang sekitar 10,7 kilobasa.

Klasifikasi ilmiah virus Zika adalah sebagai berikut:

  1. Kerajaan: Virus
  2. Famili: Flaviviridae
  3. Genus: Flavivirus
  4. Spesies: Virus Zika

Penularan

Penularan utama virus Zika pada manusia terjadi melalui gigitan nyamuk Aedes yang terinfeksi. Nyamuk ini juga merupakan vektor untuk demam berdarah, chikungunya, dan demam kuning. Selain penularan melalui vektor, virus Zika juga dapat ditularkan melalui:

  1. Transmisi seksual dari orang yang terinfeksi.
  2. Transmisi vertikal dari ibu ke janin selama kehamilan.
  3. Transfusi darah yang terkontaminasi.
  4. Paparan laboratorium.

Gejala Klinis

Gejala infeksi virus Zika umumnya ringan dan berlangsung antara 2–7 hari. Gejala yang sering dilaporkan meliputi:

  1. Demam ringan.
  2. Ruam kulit (eksantema).
  3. Nyeri sendi (artralgia).
  4. Nyeri otot (mialgia).
  5. Konjungtivitis non-purulen.

Sebagian besar infeksi berlangsung tanpa gejala, namun komplikasi serius dapat terjadi pada kehamilan dan dalam kasus langka dapat menyebabkan sindrom Guillain-Barré.

Diagnosis

Diagnosis infeksi virus Zika dapat dilakukan melalui deteksi RNA virus menggunakan metode RT-PCR (reverse transcription polymerase chain reaction) pada sampel darah atau urin. Selain itu, pemeriksaan serologi dapat mendeteksi antibodi IgM spesifik terhadap virus Zika. Tantangan dalam diagnosis adalah adanya reaktivitas silang dengan virus flavivirus lain, seperti dengue.

Metode molekuler seperti RT-PCR memiliki sensitivitas tinggi terutama pada fase awal infeksi, ketika viremia masih berlangsung.

Epidemiologi

Virus Zika ditemukan di wilayah tropis dan subtropis, dengan persebaran yang terkait erat dengan distribusi nyamuk Aedes. Wabah besar di Amerika Selatan pada 2015–2016 menyebabkan perhatian global dan memicu deklarasi Darurat Kesehatan Masyarakat oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Faktor-faktor yang memengaruhi epidemiologi Zika meliputi perubahan iklim, urbanisasi, dan mobilitas manusia yang meningkatkan kontak antara vektor dan manusia.

Pencegahan

Pencegahan infeksi virus Zika berfokus pada pengendalian vektor dan perlindungan individu terhadap gigitan nyamuk. Langkah-langkah pencegahan meliputi:

  1. Menggunakan repelan nyamuk.
  2. Memasang kelambu dan jaring pelindung.
  3. Menghilangkan tempat berkembang biak nyamuk seperti genangan air.
  4. Memakai pakaian tertutup saat berada di daerah endemis.

Tidak ada vaksin yang tersedia secara komersial untuk virus Zika hingga saat ini, sehingga pencegahan melalui kontrol vektor tetap menjadi strategi utama.

Pengobatan

Tidak ada terapi antivirus spesifik untuk infeksi virus Zika. Penatalaksanaan medis bersifat suportif, meliputi:

  1. Istirahat cukup.
  2. Pemberian cairan yang adekuat.
  3. Penggunaan obat antipiretik seperti parasetamol untuk mengurangi demam.
  4. Menghindari NSAID seperti ibuprofen pada kasus yang dicurigai terinfeksi dengue bersamaan, untuk mencegah risiko perdarahan.

Dampak pada Kehamilan

Infeksi virus Zika selama kehamilan telah terbukti meningkatkan risiko mikrosefali dan kelainan sistem saraf pusat pada janin. Mekanisme pasti terjadinya kerusakan ini belum sepenuhnya dipahami, namun diduga virus menembus plasenta dan menginfeksi sel progenitor saraf.

WHO dan CDC merekomendasikan agar wanita hamil menghindari perjalanan ke daerah dengan transmisi Zika aktif.

Hubungan dengan Sindrom Guillain-Barré

Sejumlah studi epidemiologi melaporkan adanya peningkatan insiden sindrom Guillain-Barré (GBS) selama wabah Zika di beberapa wilayah. GBS merupakan gangguan autoimun yang memengaruhi sistem saraf perifer, menyebabkan kelemahan otot dan dalam kasus berat dapat menimbulkan kelumpuhan.

Mekanisme pasti hubungan ini belum jelas, namun hipotesis yang dominan menyatakan adanya mimikri molekuler antara antigen virus Zika dan komponen saraf manusia.

Penelitian dan Perkembangan

Sejak wabah besar di Brasil, penelitian tentang Zika meningkat secara signifikan. Fokus penelitian meliputi pengembangan vaksin, terapi antivirus, dan metode diagnostik yang lebih akurat. Uji klinis vaksin Zika tengah dilakukan oleh beberapa institusi, namun belum ada yang disetujui secara luas.

Selain itu, penelitian mengenai hubungan antara infeksi Zika dan komplikasi neurologis terus dilakukan untuk memahami mekanisme patogenesis serta mengembangkan strategi intervensi yang efektif.