Nekrosis pada otak merupakan bentuk kematian jaringan saraf yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti iskemia, trauma kepala, atau infeksi. Karena jaringan otak sangat sensitif terhadap kekurangan oksigen, kerusakan dapat terjadi dalam hitungan menit setelah aliran darah terhenti. Nekrosis otak sering dikaitkan dengan gangguan neurologis permanen.

Mekanisme Nekrosis Otak

Proses nekrosis di otak biasanya dimulai dengan gangguan suplai darah akibat stroke iskemik atau perdarahan. Kekurangan oksigen mengganggu metabolisme aerob sel saraf, sehingga produksi ATP menurun drastis. Akibatnya, pompa ion gagal berfungsi, ion kalsium masuk berlebihan ke dalam sel, dan enzim-enzim perusak diaktifkan.

Selain itu, trauma kepala berat dapat merusak pembuluh darah otak dan memicu nekrosis fokal. Infeksi oleh virus herpes simpleks atau bakteri penyebab meningitis juga dapat menghancurkan jaringan saraf.

Gejala Klinis

Gejala nekrosis otak tergantung pada lokasi kerusakan. Nekrosis di korteks motorik dapat menyebabkan kelumpuhan, sedangkan kerusakan di area Broca atau Wernicke dapat mengganggu kemampuan bicara. Gangguan memori, perubahan perilaku, kejang, dan kehilangan kesadaran juga dapat terjadi.

Pasien dengan nekrosis batang otak dapat mengalami kegagalan fungsi vital seperti pernapasan dan denyut jantung.

Jenis Nekrosis Otak

  1. Nekrosis likuefaktif: paling umum pada otak, di mana jaringan mengalami pelunakan.
  2. Nekrosis hemoragik: terjadi akibat perdarahan masif.
  3. Nekrosis neuron selektif: mempengaruhi jenis sel saraf tertentu.
  4. Nekrosis laminar kortikal: kerusakan lapisan korteks akibat hipoksia.

Diagnosis

Diagnosis dilakukan melalui CT scan atau MRI untuk mendeteksi area kerusakan. Pemeriksaan cairan serebrospinal dapat membantu mengidentifikasi adanya infeksi. EEG dapat digunakan untuk menilai aktivitas listrik otak yang terganggu akibat nekrosis.

Biopsi otak jarang dilakukan karena risiko tinggi, namun dapat dipertimbangkan pada kasus tertentu.

Penanganan Nekrosis Otak

Penanganan bertujuan meminimalkan kerusakan lebih lanjut. Pada stroke iskemik, terapi reperfusi seperti pemberian tPA dapat memulihkan aliran darah jika dilakukan segera. Pada infeksi, antibiotik atau antivirus digunakan sesuai penyebabnya.

Rehabilitasi neurologis, terapi okupasi, dan fisioterapi diperlukan untuk membantu pemulihan fungsi yang hilang.

Dampak Jangka Panjang

Nekrosis otak sering meninggalkan cacat neurologis permanen. Beberapa pasien mungkin mengalami penurunan kognitif, gangguan motorik, atau kejang kronis. Dukungan psikologis dan sosial sangat penting bagi pasien dan keluarganya.

Penelitian terus dilakukan untuk mengembangkan terapi regeneratif seperti penggunaan sel punca untuk memperbaiki jaringan saraf yang rusak.