Lompat ke isi

Referensi : Pandangan tentang Privilege

Dari Wiki Berbudi

Mengapa dalam Al Qur’an Nabi Sulaiman Berani Berdoa Meminta Menjadi Raja Terkaya Sepanjang Sejarah?

“Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang pun setelahku. Sungguh, Engkaulah Maha Pemberi.”

(QS. Shad: 35)

Jika hari ini ada seseorang berdoa,

“Ya Allah, jadikan aku orang terkaya di dunia.”

Mungkin sebagian orang akan berkata,

“Itu terlalu duniawi.”

“Terlalu ambisius.”

“Tidak zuhud.”

Namun mengapa Nabi Sulaiman justru memanjatkan doa yang jauh lebih besar?

Beliau tidak meminta rumah yang luas.

Tidak meminta kebun yang subur.

Tidak meminta emas yang melimpah.

Beliau meminta kerajaan yang tidak akan dimiliki oleh siapa pun setelah dirinya.

Dan Allah mengabulkannya.

Inilah salah satu keajaiban Al Qur’an yang mengubah cara kita memandang kekayaan.

Islam tidak pernah mengajarkan bahwa miskin lebih mulia daripada kaya.

Yang dimuliakan Allah bukanlah jumlah hartanya.

Melainkan ketakwaan pemilik hartanya.

Orang miskin bisa masuk neraka.

Orang kaya juga bisa masuk neraka.

Sebaliknya, orang miskin bisa menjadi penghuni surga.

Orang kaya pun bisa menjadi penghuni surga.

Yang membedakan bukan isi rekeningnya.

Tetapi isi hatinya.

Nabi Terkaya dalam Sejarah Justru Seorang Nabi

Menariknya, manusia terkaya sepanjang sejarah menurut Al Qur’an bukanlah seorang kaisar.

Bukan seorang pengusaha.

Bukan seorang penakluk.

Tetapi seorang nabi.

Allah menundukkan angin untuk Nabi Sulaiman.

Allah menundukkan bangsa jin untuk membangun berbagai proyek besar.

Allah mengajarkan bahasa burung.

Allah memberinya kerajaan yang sangat luas.

Semua itu bukan sekadar simbol kekayaan.

Itu adalah bukti bahwa Allah mampu menggabungkan iman, ilmu, kekuasaan, dan kekayaan pada satu hamba yang bersyukur.

Bukan Hanya Nabi Sulaiman

Al Qur’an menunjukkan bahwa banyak nabi hidup berkecukupan bahkan sangat kaya.

Nabi Sulaiman memiliki kerajaan terbesar.

Nabi Daud adalah raja yang kuat sekaligus ahli dalam mengolah besi.

Nabi Ibrahim memiliki ternak yang sangat banyak dan dikenal sangat dermawan kepada tamu.

Nabi Ayyub memiliki harta melimpah sebelum Allah mengujinya.

Nabi Yusuf dipercaya mengelola perbendaharaan salah satu kerajaan terbesar pada zamannya.

Seolah Allah ingin menghapus anggapan bahwa menjadi dekat kepada Allah berarti harus hidup miskin.

Tidak.

Menjadi kaya adalah nikmat.

Menjadi kaya sekaligus bertakwa adalah kemuliaan.

Mengapa Allah Memilih Anak Seorang Raja?

Ada yang berkata,

“Enak ya… Nabi Sulaiman memang anak raja.”

Kalimat itu benar.

Tetapi justru di situlah pelajaran besar.

Allah tidak pernah mengharamkan privilege yang halal.

Nabi Sulaiman mewarisi kerajaan dari ayahnya, Nabi Daud.

Namun beliau tidak bermalas malasan karena warisan itu.

Beliau memperluasnya.

Mengembangkannya.

Menggunakannya untuk menegakkan keadilan dan menyebarkan tauhid.

Warisan yang halal bukanlah sesuatu yang harus disesali.

Justru itulah amanah yang harus ditingkatkan.

Begitu pula jika seseorang lahir dari keluarga yang berilmu.

Keluarga pengusaha.

Keluarga ulama.

Keluarga yang mapan.

Itu bukan dosa.

Yang menjadi dosa adalah ketika privilege digunakan untuk menzalimi orang lain, mengambil hak yang bukan miliknya, atau memperoleh jabatan dengan cara yang batil.

Islam tidak melarang privilege.

Islam melarang kezaliman.

Bandingkan dengan Qarun

Qarun juga sangat kaya.

Bahkan Al Qur’an menggambarkan bahwa kunci gudang hartanya saja dipikul oleh banyak orang yang kuat.

Tetapi ada satu kalimat yang membedakan Qarun dari Nabi Sulaiman.

Qarun berkata,

“Sesungguhnya aku diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.”

(QS. Al Qashash: 78)

Sedangkan Nabi Sulaiman berkata,

“Ya Tuhanku, ampunilah aku…”

Qarun memulai dengan aku.

Sulaiman memulai dengan Ya Tuhanku.

Qarun membanggakan dirinya.

Sulaiman merendahkan dirinya.

Itulah sebabnya yang satu dikenang sebagai nabi yang mulia.

Yang satu lagi dikenang sebagai simbol kesombongan.

Bagaimana Dibandingkan dengan Orang Terkaya Dunia?

Hari ini, nama nama seperti Elon Musk, Jeff Bezos, Mark Zuckerberg, dan Bernard Arnault bergantian menjadi orang terkaya di dunia.

Nilai kekayaan mereka mencapai ribuan triliun rupiah.

Angka yang sulit dibayangkan.

Namun seluruh kekayaan itu tetap memiliki batas.

Sedangkan kerajaan Nabi Sulaiman bukan hanya terdiri atas emas dan perak.

Ia memiliki wilayah yang luas.

Pasukan manusia.

Pasukan jin atas izin Allah.

Kemampuan mengendalikan angin sebagai mukjizat.

Sumber daya yang tidak dapat dihitung dengan standar ekonomi modern.

Karena itu, tidak ada perbandingan yang benar benar setara.

Yang pasti, tidak ada manusia setelah Nabi Sulaiman yang memperoleh kerajaan sebagaimana doa beliau.

Dan itulah yang Allah janjikan.

Keajaiban yang Mengubah Cara Berdoa

Banyak orang takut berdoa besar.

Takut dianggap terlalu berharap.

Padahal Nabi Sulaiman mengajarkan sesuatu yang berbeda.

Mintalah yang besar kepada Allah.

Karena yang diminta bukan kepada manusia.

Yang diminta adalah kepada Pemilik langit dan bumi.

Namun jangan lupa urutannya.

Sebelum meminta kerajaan…

Beliau meminta ampunan.

Sebelum meminta kekayaan…

Beliau membersihkan hati.

Karena Allah tidak sedang mencari orang yang sekadar kaya.

Allah sedang mencari orang yang sanggup tetap sujud ketika seluruh dunia berada dalam genggamannya.

Maka jangan takut menjadi pengusaha yang kaya.

Jangan takut menjadi investor yang berhasil.

Jangan takut memiliki perusahaan yang besar.

Jangan takut memiliki aset yang melimpah.

Takutlah jika semua itu menjauhkanmu dari Allah.

Sebab harta di tangan seorang mukmin dapat membangun masjid, membiayai dakwah, menghidupi ribuan keluarga, menyantuni anak yatim, dan menjadi jalan menuju surga.

Jadilah termotivasi menjadi kaya yang bermanfaat seperti Nabi Sulaiman dan Nabi lainnya..

Bukan agar dipuji manusia.

Tetapi agar semakin banyak kebaikan yang dapat dilakukan karena Allah.

#KeajaibanAlQuran #AlQuran #MukjizatAlQuran