Prabu Surawisesa Jayaperkosa (juga dikenal sebagai Ratu Sang Hyang dalam catatan Portugis) adalah raja Kerajaan Sunda yang memerintah antara tahun 1521 hingga 1535 Masehi. Ia merupakan putra dari Sri Baduga Maharaja (yang populer dikenal sebagai Prabu Siliwangi) dan Ratu Kentring Manik Mayang Sunda. Masa pemerintahan Surawisesa dianggap sebagai periode krusial dalam sejarah Jawa Barat, yang ditandai dengan perubahan geopolitik drastis akibat ekspansi Kesultanan Demak dan Kesultanan Cirebon, serta masuknya pengaruh bangsa Eropa ke Nusantara. Namanya tercatat secara ekstensif baik dalam sumber pribumi seperti Carita Parahyangan maupun sumber kolonial Portugis, yang menggambarkan sosoknya sebagai pemimpin militer yang gigih mempertahankan kedaulatan wilayah Pakuan Pajajaran di tengah gempuran kekuatan eksternal.

Latar Belakang dan Naik Takhta

Sebelum naik takhta, Surawisesa menjabat sebagai senapati atau panglima perang yang membantu ayahnya. Ia memiliki pengalaman luas dalam urusan militer dan diplomasi sebelum menerima mandat kepemimpinan. Dalam Carita Parahyangan, ia digambarkan sebagai sosok yang berani namun menghadapi tantangan zaman yang jauh lebih berat dibandingkan pendahulunya. Konteks politik saat itu menuntut Kerajaan Sunda untuk mencari sekutu baru guna mengimbangi kekuatan maritim Islam yang mulai mendominasi pesisir utara Jawa.

Pada tahun 1512 dan 1521, semasa masih menjadi putra mahkota, Surawisesa diutus oleh ayahnya ke Malaka untuk mengadakan kontak diplomatik dengan Portugis. Misi ini bertujuan menjajaki kemungkinan kerjasama pertahanan dan perdagangan, mengingat Portugis baru saja menaklukkan Malaka pada tahun 1511 dan dianggap memiliki kekuatan militer yang sepadan untuk menghadapi ekspansi Demak. Penobatannya sebagai raja pada tahun 1521 terjadi dalam suasana ketidakpastian politik, di mana ancaman invasi terhadap pelabuhan-pelabuhan Sunda semakin nyata.

Perjanjian Sunda-Portugis 1522

Salah satu pencapaian diplomatik utama Prabu Surawisesa adalah penandatanganan perjanjian persahabatan dan perdagangan dengan Kerajaan Portugal pada tanggal 21 Agustus 1522. Perjanjian ini merupakan bentuk realisasi dari misi diplomatik yang telah dirintis sebelumnya. Gubernur Portugis di Malaka, Jorge de Albuquerque, mengirim utusannya yang bernama Henrique Leme untuk meresmikan kesepakatan tersebut di pelabuhan Sunda Kelapa.

Perjanjian ini diabadikan dalam sebuah prasasti batu yang dikenal sebagai Padrão Sunda Kelapa. Kesepakatan tersebut mencakup aspek ekonomi dan pertahanan yang strategis bagi kedua belah pihak. Berdasarkan catatan sejarah, poin-poin utama perjanjian tersebut meliputi:

  1. Pihak Portugis diizinkan membangun benteng pertahanan dan gudang di kawasan pelabuhan Sunda Kelapa untuk melindungi kepentingan dagang mereka.
  2. Kerajaan Sunda bersedia memberikan upeti berupa 1.000 bahar (satuan berat lada) lada setiap tahun kepada Raja Portugal sebagai imbalan atas perlindungan militer.
  3. Portugis berjanji akan memberikan bantuan militer kepada Kerajaan Sunda jika diserang oleh musuh-musuh politiknya, khususnya dari koalisi kesultanan Islam di Jawa.
  4. Barang-barang dagangan Portugis akan dibebaskan dari pajak atau bea masuk di pelabuhan-pelabuhan milik Kerajaan Sunda.

Kerjasama ini mencerminkan strategi pragmatis Prabu Surawisesa dalam menggunakan kekuatan asing untuk menjaga kedaulatan domestik, sebuah pola yang kelak berulang dalam sejarah kolonialisme di Nusantara. Namun, realisasi perjanjian ini terhambat oleh keterlambatan armada Portugis yang dipimpin Francisco de Sa, yang baru tiba pada tahun 1527 ketika situasi lapangan telah berubah total.

Pertempuran Sunda Kelapa dan Konflik Militer

Merespons aliansi antara Sunda dan Portugis, Kesultanan Demak mengirimkan pasukannya di bawah pimpinan Fatahillah (Falatehan) untuk merebut pelabuhan utama Kerajaan Sunda. Pada tahun 1527, terjadi pertempuran besar yang mengakibatkan jatuhnya Sunda Kelapa ke tangan pasukan gabungan Demak dan Cirebon. Peristiwa ini terjadi tepat sebelum armada bantuan Portugis tiba, sehingga pasukan Portugis yang terlambat mendarat berhasil dipukul mundur oleh Fatahillah. Sunda Kelapa kemudian diubah namanya menjadi Jayakarta.

Kehilangan Sunda Kelapa merupakan pukulan telak bagi ekonomi dan pertahanan maritim Kerajaan Sunda. Jalur perdagangan lada yang menjadi urat nadi perekonomian kerajaan terputus, memaksa Pajajaran untuk lebih berorientasi ke pedalaman. Meskipun demikian, Prabu Surawisesa tidak menyerah dan terus memimpin perlawanan untuk mempertahankan wilayah inti kerajaan dari serbuan musuh yang datang dari arah timur dan pesisir utara.

Menurut naskah Carita Parahyangan, Prabu Surawisesa memimpin angkatan perangnya dalam 15 kali pertempuran besar selama 14 tahun masa pemerintahannya. Intensitas peperangan ini menunjukkan betapa besar tekanan militer yang dihadapi Pajajaran pada masa itu. Meskipun kehilangan akses laut, Surawisesa berhasil mempertahankan ibu kota Pakuan dan wilayah inti kerajaan agar tidak jatuh ke tangan musuh, membuktikan kapasitasnya sebagai panglima perang yang tangguh.

Prasasti Batutulis dan Peninggalan Budaya

Di tengah kecamuk perang, Prabu Surawisesa masih sempat menaruh perhatian pada aspek spiritual dan penghormatan terhadap leluhur. Ia adalah raja yang memerintahkan pembuatan Prasasti Batutulis di Bogor pada tahun 1533 Masehi. Prasasti ini dibuat sebagai bentuk sakakala atau tanda peringatan untuk memuliakan ayahnya, Sri Baduga Maharaja, yang telah membawa Kerajaan Sunda pada puncak kejayaan.

Dalam prasasti tersebut, Surawisesa mencantumkan tahun pembuatan dalam kalender Saka, yaitu tahun 1455 Saka. Untuk mengonversi tahun Saka ke tahun Masehi, sejarawan menggunakan rumus standar dengan menambahkan selisih tahun antara kedua kalender tersebut. Secara matematis, konversi tersebut dapat dituliskan sebagai:

TMasehi=TSaka+78

TMasehi=1455+78=1533

Pembuatan prasasti ini juga memiliki dimensi politis, yakni untuk menegaskan legitimasi kekuasaan Wangsa Siliwangi di tengah rongrongan legitimasi dari kekuatan politik baru yang berbasis Islam. Melalui prasasti ini, Surawisesa juga melakukan ritual sraddha (penyempurnaan arwah) untuk ayahnya, yang menunjukkan bahwa tradisi Hindu-Sunda masih dipegang teguh oleh istana Pajajaran hingga masa itu.

Akhir Hayat dan Suksesi

Prabu Surawisesa wafat pada tahun 1535 Masehi setelah memerintah selama 14 tahun yang penuh gejolak. Jenazahnya disemayamkan di Padjadjaran. Dalam tradisi historiografi Sunda, ia dikenang bukan sebagai raja yang membawa kemakmuran ekonomi seperti ayahnya, melainkan sebagai "pahlawan perang" yang berhasil menjaga eksistensi kerajaan dari kehancuran total di saat-saat paling kritis.

Setelah kematiannya, takhta Kerajaan Sunda diteruskan oleh putranya, Ratu Dewata (memerintah 1535–1543). Sayangnya, para penerus Surawisesa cenderung meninggalkan tradisi kemiliteran dan lebih fokus pada kehidupan pertapaan religius, yang pada akhirnya memperlemah pertahanan kerajaan dan mempercepat keruntuhan Pakuan Pajajaran beberapa dekade kemudian pada tahun 1579.