Jump to content

Polio

From Wiki Berbudi

Polio, atau poliomielitis, adalah penyakit menular yang disebabkan oleh poliovirus. Penyakit ini terutama menyerang sistem saraf dan dapat menyebabkan kelumpuhan permanen. Polio menyebar melalui kontak langsung dengan orang yang terinfeksi atau melalui makanan dan air yang terkontaminasi. Sebelum ditemukannya vaksin polio, penyakit ini menjadi salah satu masalah kesehatan global yang serius, menyebabkan epidemi di berbagai negara dan menginfeksi ribuan anak setiap tahunnya. Polio dapat menyerang segala usia, tetapi paling sering ditemukan pada anak-anak di bawah usia lima tahun.

Sejarah Polio

Kasus polio telah tercatat sejak ribuan tahun yang lalu, dengan bukti lukisan Mesir kuno yang menggambarkan individu dengan kaki layu. Epidemi polio besar mulai terjadi pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, terutama di negara-negara dengan tingkat urbanisasi tinggi. Di Amerika Serikat, wabah besar terjadi pada tahun 1916 yang menginfeksi puluhan ribu orang. Penemuan vaksin inaktif oleh Jonas Salk pada tahun 1955, disusul oleh vaksin oral yang dikembangkan oleh Albert Sabin, menjadi tonggak penting dalam upaya pemberantasan polio.

Penyebab dan Penularan

Polio disebabkan oleh poliovirus yang termasuk dalam genus Enterovirus. Virus ini masuk ke dalam tubuh melalui mulut, biasanya dari makanan atau air yang terkontaminasi. Setelah masuk, virus berkembang biak di tenggorokan dan usus, lalu dapat menyebar ke sistem saraf pusat. Penularan terjadi terutama melalui:

  1. Kontak langsung dengan ludah atau lendir dari hidung dan mulut penderita
  2. Konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi tinja penderita
  3. Kontak dengan benda yang terkontaminasi virus

Gejala

Sebagian besar infeksi polio tidak menunjukkan gejala atau hanya gejala ringan seperti demam, sakit kepala, dan rasa lemah. Namun, pada sebagian kecil kasus, virus dapat menyerang saraf tulang belakang dan menyebabkan kelumpuhan permanen. Gejala polio dapat meliputi:

  1. Demam
  2. Nyeri tenggorokan
  3. Nyeri otot
  4. Kekakuan pada leher dan punggung
  5. Kelemahan atau kelumpuhan pada anggota tubuh

Diagnosis

Diagnosis polio dilakukan melalui pemeriksaan klinis dan uji laboratorium. Dokter dapat mengambil sampel tinja, usap tenggorokan, atau cairan serebrospinal untuk mendeteksi keberadaan poliovirus. Pemeriksaan ini penting untuk membedakan polio dari penyakit lain yang memiliki gejala serupa, seperti meningitis atau ensefalitis.

Pencegahan

Pencegahan polio terutama dilakukan melalui imunisasi. Dua jenis vaksin yang umum digunakan adalah:

  1. Vaksin polio inaktif (IPV), diberikan melalui suntikan
  2. Vaksin polio oral (OPV), diberikan melalui mulut

Kampanye imunisasi massal telah berhasil menurunkan jumlah kasus polio secara drastis di seluruh dunia.

Pengobatan

Tidak ada pengobatan spesifik untuk polio. Perawatan yang diberikan bersifat suportif, bertujuan untuk meringankan gejala dan mencegah komplikasi. Terapi dapat meliputi:

  1. Fisioterapi untuk memulihkan kekuatan otot
  2. Alat bantu gerak seperti penyangga kaki
  3. Perawatan pernapasan untuk penderita yang mengalami kelumpuhan otot pernapasan

Epidemiologi

Sejak dimulainya Inisiatif Pemberantasan Polio Global pada tahun 1988, jumlah kasus polio menurun lebih dari 99%. Sebagian besar negara telah bebas polio, tetapi virus ini masih endemik di beberapa negara seperti Afganistan dan Pakistan. Migrasi dan perjalanan internasional dapat menjadi faktor risiko munculnya kembali virus di wilayah yang sudah bebas polio.

Dampak Sosial

Polio memiliki dampak besar terhadap kehidupan individu dan masyarakat. Anak-anak yang mengalami kelumpuhan permanen mungkin menghadapi kesulitan dalam mobilitas dan aktivitas sehari-hari. Selain itu, polio dapat memberikan beban ekonomi pada keluarga dan sistem kesehatan, terutama di negara-negara dengan sumber daya terbatas.

Upaya Pemberantasan

Upaya pemberantasan polio melibatkan kolaborasi antara berbagai organisasi internasional seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), UNICEF, dan Rotary International. Strategi yang digunakan meliputi:

  1. Imunisasi rutin dan kampanye vaksinasi massal
  2. Surveilans epidemiologi untuk mendeteksi kasus baru
  3. Tanggap cepat terhadap wabah untuk mencegah penyebaran lebih luas