Jump to content

Perbandingan Microservices dan Monolitik

From Wiki Berbudi

Dalam pengembangan perangkat lunak, dua pendekatan arsitektur yang umum digunakan adalah microservices dan arsitektur monolitik. Microservices memecah aplikasi menjadi layanan-layanan kecil yang dapat berjalan secara independen, sedangkan arsitektur monolitik membangun aplikasi sebagai satu kesatuan utuh. Pemilihan antara kedua pendekatan ini sangat memengaruhi skalabilitas, pemeliharaan, dan proses pengembangan aplikasi.

Kelebihan Arsitektur Monolitik

Arsitektur monolitik menawarkan kesederhanaan dalam pengembangan dan deployment karena seluruh aplikasi berada dalam satu basis kode. Namun, seiring dengan bertambahnya kompleksitas aplikasi, monolitik dapat menyulitkan skalabilitas dan pemeliharaan.

Keunggulan Microservices

Microservices memungkinkan setiap tim mengembangkan, menguji, dan mendistribusikan layanan secara terpisah. Hal ini meningkatkan continuous integration dan CI/CD serta memungkinkan penggunaan berbagai bahasa pemrograman sesuai kebutuhan layanan.

Tantangan dan Pertimbangan

Meskipun lebih fleksibel, microservices memperkenalkan tantangan baru, seperti kebutuhan akan service discovery, load balancing, dan pengelolaan API. Pengembang perlu mempertimbangkan kebutuhan dan sumber daya sebelum memilih arsitektur yang tepat.