Lompat ke isi

Limfoma

Dari Wiki Berbudi

Limfoma adalah sekelompok keganasan atau kanker darah yang berkembang dari limfosit, yaitu sel darah putih yang berperan penting dalam sistem kekebalan tubuh. Kanker ini bermula ketika limfosit mengalami mutasi genetik yang menyebabkan sel-sel tersebut tumbuh tidak terkendali dan tidak mati sebagaimana mestinya (apoptosis). Sel-sel abnormal ini kemudian menumpuk di kelenjar getah bening, limpa, sumsum tulang, dan organ lainnya, membentuk tumor yang dapat mengganggu fungsi sistem limfatik dan kekebalan tubuh. Limfoma merupakan salah satu jenis keganasan hematologi yang paling umum dijumpai di seluruh dunia, dengan tingkat insiden yang bervariasi berdasarkan usia, jenis kelamin, dan faktor geografis.

Istilah limfoma sebenarnya mencakup berbagai jenis kanker yang berbeda secara biologis dan klinis, namun secara garis besar dikategorikan ke dalam dua kelompok utama: Limfoma Hodgkin (LH) dan Limfoma Non-Hodgkin (LNH). Perbedaan mendasar antara kedua jenis ini terletak pada keberadaan sel spesifik yang disebut sel Reed-Sternberg yang hanya ditemukan pada Limfoma Hodgkin. Penentuan jenis limfoma sangat krusial karena pendekatan terapi dan prognosis bagi pasien sangat bergantung pada subtipe spesifik serta stadium penyakit saat didiagnosis. Perkembangan teknologi medis, khususnya dalam bidang imunologi dan genetika molekuler, telah meningkatkan pemahaman mengenai patofisiologi limfoma secara signifikan dalam beberapa dekade terakhir.

Klasifikasi

Klasifikasi limfoma telah mengalami berbagai evolusi seiring dengan ditemukannya penanda molekuler baru. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) membagi limfoma berdasarkan jenis sel asal (sel B, sel T, atau sel NK) dan karakteristik molekuler lainnya. Limfoma Hodgkin ditandai dengan adanya sel Reed-Sternberg, yang merupakan limfosit B berukuran besar dengan inti ganda. Jenis ini lebih sering menyerang orang dewasa muda dan kemudian memiliki puncak insiden kedua pada usia di atas 55 tahun. Tingkat kesembuhan untuk Limfoma Hodgkin umumnya tinggi, terutama jika dideteksi pada tahap awal.

Di sisi lain, Limfoma Non-Hodgkin (LNH) merupakan kelompok yang jauh lebih heterogen dan lebih umum terjadi dibandingkan jenis Hodgkin. LNH dapat berasal dari sel B atau sel T, dengan limfoma sel B mencakup sekitar 85% dari seluruh kasus LNH. Contoh subtipe LNH yang agresif meliputi Diffuse Large B-Cell Lymphoma (DLBCL), sedangkan jenis yang lebih lambat perkembangannya (indolen) termasuk limfoma folikuler. Perilaku klinis LNH sangat bervariasi, mulai dari yang tumbuh sangat lambat hingga yang berkembang sangat cepat dan memerlukan penanganan segera.

Etiologi dan Faktor Risiko

Penyebab pasti terjadinya mutasi genetik pada limfoma belum sepenuhnya dipahami, namun beberapa faktor risiko telah diidentifikasi dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengembangkan penyakit ini. Infeksi virus tertentu memiliki korelasi yang kuat dengan beberapa jenis limfoma; misalnya, virus Epstein-Barr (EBV) berhubungan erat dengan Limfoma Burkitt dan Limfoma Hodgkin, sementara Human T-lymphotropic virus (HTLV-1) terkait dengan limfoma sel T dewasa. Selain itu, infeksi bakteri Helicobacter pylori diketahui meningkatkan risiko limfoma MALT pada lambung.

Gangguan pada sistem kekebalan tubuh juga menjadi faktor risiko yang signifikan. Pasien dengan HIV/AIDS atau mereka yang mengonsumsi obat imunosupresan pasca transplantasi organ memiliki risiko lebih tinggi terkena limfoma. Paparan bahan kimia tertentu, seperti pestisida dan herbisida, serta riwayat keluarga dengan keganasan hematologi juga dapat berkontribusi terhadap kerentanan individu. Meskipun demikian, banyak pasien yang didiagnosis limfoma tidak memiliki faktor risiko yang jelas, menunjukkan adanya kompleksitas interaksi antara faktor genetik dan lingkungan.

Tanda dan Gejala

Manifestasi klinis limfoma sering kali tidak spesifik dan dapat menyerupai penyakit ringan lainnya. Tanda yang paling umum adalah pembengkakan kelenjar getah bening (limfadenopati) yang biasanya tidak terasa nyeri, sering ditemukan di leher, ketiak, atau pangkal paha. Pembengkakan ini terjadi akibat akumulasi limfosit abnormal di dalam kelenjar. Jika limfoma berkembang di dalam rongga dada atau perut, pasien mungkin mengalami sesak napas, batuk, atau rasa penuh dan nyeri di perut.

Selain pembengkakan fisik, pasien limfoma sering mengalami sekumpulan gejala sistemik yang dikenal sebagai "Gejala B". Gejala ini memiliki implikasi prognostik yang penting dalam penentuan stadium penyakit. Gejala B meliputi:

  1. Demam yang tidak diketahui penyebabnya (biasanya >38°C).
  2. Keringat malam yang berlebihan hingga membasahi pakaian tidur.
  3. Penurunan berat badan yang signifikan (>10% dari berat badan) dalam waktu 6 bulan tanpa usaha diet.

Kehadiran Gejala B sering kali menandakan penyakit yang lebih agresif atau penyebaran yang lebih luas, dan dokter akan mempertimbangkan hal ini dalam merencanakan strategi pengobatan. Gejala lain yang mungkin muncul termasuk kelelahan ekstrem (fatigue) dan gatal-gatal pada kulit (pruritus) yang persisten.

Diagnosis dan Penentuan Stadium

Diagnosis definitif limfoma hanya dapat ditegakkan melalui biopsi kelenjar getah bening atau jaringan yang dicurigai. Sampel jaringan kemudian diperiksa oleh ahli patologi anatomi menggunakan mikroskop dan teknik imunohistokimia untuk mengidentifikasi jenis sel dan penanda protein spesifik pada permukaan sel (CD20, CD30, dll.). Pemeriksaan sumsum tulang juga sering dilakukan untuk melihat apakah kanker telah menyebar ke pabrik pembuatan darah tersebut.

Setelah diagnosis dikonfirmasi, langkah selanjutnya adalah penentuan stadium (staging) untuk mengetahui seberapa jauh kanker telah menyebar. Sistem yang paling umum digunakan adalah sistem klasifikasi Ann Arbor yang dimodifikasi. Pemindaian pencitraan modern seperti CT scan dan PET scan (Positron Emission Tomography) sangat vital dalam proses ini karena dapat mendeteksi aktivitas metabolik sel kanker di seluruh tubuh dengan sensitivitas tinggi.

Sistem stadium Ann Arbor membagi perkembangan penyakit sebagai berikut:

  1. Stadium I: Kanker hanya terdapat pada satu regio kelenjar getah bening atau satu organ ekstralimfatik.
  2. Stadium II: Kanker ditemukan pada dua atau lebih regio kelenjar getah bening pada sisi diafragma yang sama.
  3. Stadium III: Kanker melibatkan regio kelenjar getah bening di kedua sisi diafragma (atas dan bawah).
  4. Stadium IV: Kanker telah menyebar luas ke satu atau lebih organ di luar sistem limfatik, seperti hati, paru-paru, atau sumsum tulang.

Penatalaksanaan Medis

Pengobatan limfoma bersifat multidisiplin dan sangat bergantung pada jenis histologis serta stadium penyakit. Kemoterapi tetap menjadi tulang punggung terapi untuk sebagian besar jenis limfoma agresif. Regimen kemoterapi kombinasi, seperti R-CHOP (Rituximab, Cyclophosphamide, Doxorubicin, Vincristine, dan Prednisone), sering digunakan untuk Limfoma Non-Hodgkin sel B. Dosis obat kemoterapi sitotoksik sering kali dihitung berdasarkan Luas Permukaan Tubuh (Body Surface Area atau BSA) untuk meminimalkan toksisitas sekaligus memaksimalkan efikasi.

Salah satu rumus yang umum digunakan untuk menghitung BSA dalam onkologi adalah rumus Mosteller. Jika L adalah luas permukaan tubuh dalam m2, H adalah tinggi badan dalam sentimeter, dan W adalah berat badan dalam kilogram, maka perhitungannya dapat dinyatakan sebagai berikut:

L=W×H3600

Selain kemoterapi, terapi radiasi sering digunakan untuk mengontrol penyakit lokal atau sebagai terapi konsolidasi setelah kemoterapi. Perkembangan terbaru dalam pengobatan limfoma adalah penggunaan imunoterapi dan terapi target. Antibodi monoklonal seperti Rituximab bekerja dengan menargetkan protein CD20 pada permukaan sel B, memicu sistem imun untuk menghancurkan sel kanker. Terapi sel T CAR (Chimeric Antigen Receptor) merupakan terobosan baru di mana sel T pasien direkayasa secara genetik di laboratorium untuk mengenali dan menyerang sel limfoma, memberikan harapan bagi pasien yang mengalami kekambuhan (relaps).