Kerajaan Pajajaran
Kerajaan Pajajaran adalah sebuah entitas politik maritim dan agraris yang berpusat di wilayah Parahyangan, Jawa Barat, yang berkembang pesat antara abad ke-15 hingga abad ke-16 Masehi. Dalam historiografi akademik, kerajaan ini lebih tepat disebut sebagai Kerajaan Sunda pada periode ketika ibu kota pemerintahannya berkedudukan di Pakuan Pajajaran (sekarang meliputi wilayah Kota Bogor). Kerajaan ini dikenal karena hegemoni politiknya yang kuat di bagian barat Pulau Jawa, menyatukan wilayah Kerajaan Galuh dan Sunda di bawah satu kepemimpinan tunggal. Pajajaran tercatat dalam berbagai sumber primer, baik berupa prasasti, naskah kuno, maupun catatan perjalanan penjelajah Eropa, sebagai kerajaan yang makmur dengan sistem birokrasi yang terstruktur serta memiliki hubungan perdagangan internasional yang luas sebelum akhirnya runtuh akibat ekspansi kesultanan-kesultanan Islam di pesisir utara Jawa.
Historiografi dan Sumber Sejarah
Rekonstruksi sejarah Kerajaan Pajajaran didasarkan pada analisis komparatif antara sumber pribumi dan sumber asing. Sumber primer utama yang menjadi rujukan adalah Prasasti Batutulis yang dibuat pada tahun 1533 Masehi atas perintah Prabu Surawisesa. Prasasti ini memberikan legitimasi genealogis dan pencapaian raja sebelumnya, Sri Baduga Maharaja. Selain itu, naskah-naskah kuno seperti Carita Parahyangan, Sanghyang Siksa Kandang Karesian, dan Bujangga Manik memberikan wawasan mendalam mengenai struktur sosial, agama, dan geografi kerajaan tersebut.
Sumber asing yang paling signifikan berasal dari catatan bangsa Portugis, terutama Suma Oriental karya Tomé Pires yang ditulis antara tahun 1512–1515. Pires memberikan deskripsi rinci mengenai aktivitas perdagangan, batas wilayah, dan sifat masyarakat Sunda pada masa itu. Validasi kronologis terhadap naskah-naskah organik dari periode ini sering kali melibatkan metode penanggalan radiokarbon untuk memastikan otentisitas substrat naskah, di mana peluruhan isotop karbon dihitung menggunakan persamaan:
Di mana adalah jumlah isotop yang tersisa pada waktu , dan adalah konstanta peluruhan. Metode ini membantu sejarawan memilah anakronisme dalam penyalinan naskah di kemudian hari.
Etimologi dan Terminologi
Istilah "Pajajaran" secara harfiah bermakna "berajar" atau "sejajar". Dalam konteks kosmologi dan tata kota tradisional Sunda, istilah ini merujuk pada tata letak keraton atau istana di Pakuan yang memiliki lima bangunan (panca persada) yang berjajar. Masyarakat setempat pada masa itu lebih sering menyebut kerajaan mereka sebagai "Sunda", sedangkan "Pajajaran" adalah sinekdoke yang merujuk pada nama ibu kotanya, Pakuan Pajajaran.
Penggunaan nama Pajajaran menjadi lebih populer dalam tradisi lisan (pantun Sunda) dan literatur di kemudian hari dibandingkan nama resmi kerajaannya. Fenomena ini serupa dengan penyebutan Kerajaan Majapahit yang merujuk pada lokasi ibu kotanya di Trowulan. Identifikasi geografis Pakuan Pajajaran telah diverifikasi melalui penemuan situs-situs arkeologi di wilayah Batutulis, Bogor, yang menunjukkan sisa-sisa parit pertahanan dan fondasi bangunan.
Masa Keemasan di Bawah Sri Baduga Maharaja
Puncak kejayaan Kerajaan Pajajaran terjadi pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja atau yang lebih dikenal dalam tradisi lisan sebagai Prabu Siliwangi (memerintah 1482–1521). Ia berhasil menyatukan kembali takhta Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh yang sebelumnya sempat terpisah. Di bawah kepemimpinannya, Pajajaran melakukan reformasi administrasi besar-besaran dan pembangunan infrastruktur yang monumental.
Salah satu pencapaian terbesarnya adalah pembuatan parit pertahanan yang mengelilingi ibu kota Pakuan dan pembuatan "Talaga Maharena Wijaya" (kemungkinan besar Danau Rancamaya atau kolam besar di sekitar Kebun Raya Bogor saat ini). Pembangunan infrastruktur ini tidak hanya berfungsi sebagai pertahanan militer dari ancaman luar, tetapi juga sebagai sistem irigasi untuk mendukung pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi kerajaan.
Stabilitas politik yang diciptakan oleh Sri Baduga Maharaja memungkinkan berkembangnya kehidupan religius dan kebudayaan. Naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian (1518 M) yang ditulis pada masa ini menunjukkan tingginya tingkat literasi dan kompleksitas sistem pendidikan serta etika masyarakat Sunda kuno. Stabilitas ini juga menarik pedagang asing untuk berlabuh di pelabuhan-pelabuhan yang dikuasai Pajajaran.
Ekonomi dan Perdagangan
Ekonomi Kerajaan Pajajaran bertumpu pada dualisme agraria di pedalaman dan maritim di pesisir. Wilayah pedalaman yang subur menghasilkan komoditas pertanian melimpah, sementara pelabuhan-pelabuhan utama seperti Sunda Kelapa (Jakarta), Banten, Pontang, Cigede, Tamgara, dan Cimanuk menjadi pintu gerbang ekspor. Sungai Ciliwung dan Cisadane berfungsi sebagai arteri transportasi utama yang menghubungkan pusat pemerintahan dengan pesisir.
Komoditas ekspor utama Kerajaan Pajajaran yang sangat diminati oleh pedagang internasional, sebagaimana dicatat oleh Tomé Pires, meliputi:
- Lada (Piper nigrum): Komoditas strategis utama yang menjadi primadona perdagangan rempah dunia, dengan kualitas yang dianggap bersaing dengan lada dari Sumatera.
- Beras: Sebagai negara agraris, surplus produksi beras diekspor ke wilayah-wilayah yang defisit pangan, termasuk ke Malaka.
- Sayur-mayur dan Buah-buahan: Termasuk asam jawa yang digunakan sebagai pengawet dan bumbu masakan.
- Hewan Ternak: Sapi, kambing, dan babi, serta produk turunannya.
- Budak: Tenaga kerja yang diperdagangkan untuk kebutuhan domestik dan militer di kawasan Asia Tenggara.
Kontrol ketat terhadap perdagangan lada memberikan keuntungan devisa yang besar bagi kerajaan. Sistem mata uang yang digunakan meliputi koin emas dan perak, serta penggunaan uang kepeng Tiongkok, yang menunjukkan integrasi Pajajaran dalam jaringan perdagangan Asia Timur.
Hubungan Internasional dan Diplomasi
Dalam menghadapi dinamika geopolitik kawasan, terutama bangkitnya kekuatan Islam di pesisir utara Jawa (Kesultanan Demak), Pajajaran menempuh jalur diplomasi pragmatis. Raja Surawisesa (penerus Sri Baduga Maharaja) menjalin aliansi strategis dengan bangsa Portugis di Malaka. Pada tahun 1522, sebuah perjanjian persahabatan ditandatangani, yang diabadikan dalam Padrão Sunda Kelapa.
Perjanjian ini memberikan hak kepada Portugis untuk membangun benteng dan gudang di Sunda Kelapa dengan imbalan bantuan militer untuk menghadapi ancaman Demak dan Cirebon. Namun, realisasi perjanjian ini terlambat; sebelum Portugis dapat mendirikan bentengnya, Fatahillah dari Demak telah berhasil merebut Sunda Kelapa pada tahun 1527, memaksa Pajajaran mundur ke pedalaman.
Struktur Sosial dan Keagamaan
Masyarakat Pajajaran menganut sistem stratifikasi sosial yang didasarkan pada fungsi dan jabatan, namun tidak sekaku sistem kasta di India. Agama resmi kerajaan adalah Sunda Wiwitan yang bercorak Hindu-Buddha dengan elemen pemujaan leluhur yang kuat (animisme/dinamisme). Raja dianggap sebagai titisan dewa atau representasi kekuatan ilahi di dunia yang bertugas menjaga keseimbangan kosmos.
Kelompok rohaniwan atau resi menempati posisi terhormat dan sering kali bermukim di wilayah khusus yang disebut kabuyutan atau mandala. Wilayah ini bebas pajak dan dilindungi oleh raja, berfungsi sebagai pusat pendidikan dan penyalinan naskah. Pelanggaran terhadap kesucian mandala dianggap sebagai tabu besar yang dapat mendatangkan bencana bagi kerajaan.
Keruntuhan Kerajaan
Keruntuhan Kerajaan Pajajaran adalah proses gradual yang disebabkan oleh tekanan militer dari kesultanan-kesultanan Islam di sekitarnya, yaitu Kesultanan Banten di barat dan Kesultanan Cirebon di timur. Setelah kehilangan akses ke laut (pelabuhan Sunda Kelapa dan Banten), ekonomi Pajajaran mulai melemah karena terisolasi di pedalaman.
Serangan pamungkas terjadi pada tahun 1579 Masehi yang dilancarkan oleh Maulana Yusuf dari Banten. Pasukan Banten berhasil menembus benteng pertahanan Pakuan. Peristiwa ini menandai berakhirnya kedaulatan Kerajaan Sunda/Pajajaran. Simbol kekuasaan berupa Watu Gigilang (batu penobatan raja) diboyong dari Pakuan ke Keraton Surosowan di Banten, sebagai simbolisasi bahwa legitimasi kekuasaan politik telah berpindah.
Warisan Budaya
Meskipun telah runtuh, warisan Kerajaan Pajajaran tetap hidup dalam memori kolektif masyarakat Sunda. Konsep "Siliwangi" bertransformasi menjadi mitos kepemimpinan ideal yang adil dan bijaksana. Peninggalan fisik seperti situs-situs megalitik di Gunung Padang (yang terus digunakan pada masa tersebut) dan sisa-sisa parit di Bogor menjadi saksi bisu keberadaan kerajaan ini. Selain itu, Kebun Raya Bogor diyakini menempati sebagian area hutan buatan (Samida) yang dahulu dibuat untuk konservasi kayu langka pada masa Pajajaran.