Oreo adalah anak kucing hitam putih kesayangan saya dan keluarga, anak saya memberi nama yang berbeda "Dairo". Ia masih kecil, lembut, dan selalu membawa keceriaan di rumah. Warna bulunya hitam putih seperti biskuit Oreo, itulah sebabnya kami memberinya nama itu.

Oreo si Kucing lucu
Oreo si Kucing lucu

Kehidupan

Oreo tumbuh di sekitar rumah dan cepat membuat kami sayang padanya. Ia suka bermain, berlari ke sana kemari, dan sering tidur di tempat-tempat yang tidak terduga. Meskipun masih kecil, Oreo punya kepribadian yang lucu, penuh rasa ingin tahu, dan mudah membuat siapa pun tersenyum. Ia sering mengeong pelan dengan suara khasnya yang besar serak, tidak seperti anak kucing lain, seolah menyapa setiap kali kami pulang ke rumah.

Oreo datang ke rumah kami dalam keadaan sakit dan kurus. Karena ia terlihat betah di rumah kami, maka Kami merawatnya dengan penuh kasih — memberinya makan, tempat hangat untuk tidur, dan perhatian setiap hari, ketika anak-anak bermain Oreo selalu ikut bermain. Perlahan-lahan Oreo mulai sehat kembali, tubuhnya tidak kurus lagi.

Sayangnya, kami tidak menyangka masa hidupnya sangat singkat. Oreo hanya tinggal bersama kami kurang dari satu bulan, sekitar 3 minggu. Dalam waktu sesingkat itu, ia sudah berhasil mencuri hati semua anggota keluarga.

Kejadian

Saya sedang tidak berada di rumah ketika kejadian itu terjadi. Kata mertua saya, sekitar waktu magrib Oreo masih hidup dan tampak baik-baik saja. Sekitar jam 8 malam pun belum ada tanda-tanda apa pun. Namun, pada waktu shubuh, semuanya berubah.

Pagi itu, selepas shalat shubuh, sepulang saya dari masjid, istri saya menghampiri sambil menangis. Ia baru saja menerima pesan WhatsApp dari mamah mertua saya yang mengabarkan bahwa Oreo telah meninggal. Dalam pesan itu juga ada foto yang menunjukkan keadaan Oreo setelah kejadian. Berdasarkan cerita keluarga, kemungkinan besar Oreo tertabrak kendaraan pada sore hari.

Berita itu sungguh berat bagi kami berdua. Meskipun “hanya” seekor anak kucing, rasanya seperti kehilangan anggota keluarga sendiri.

Kemudian, ibu mertua mengabari bahwa Oreo ternyata masih hidup, kami pun bergegas pulang dan meninggalkan sementara 2 acara, yaitu syukuran dan pawai pesantren. Harapannya agar Oreo bisa diobati ke dokter hewan. Namun ternyata sesampainya di rumah kondisi Oreo sudah sangat memprihatinkan, tubuhnya sudah dipenuhi oleh lalat, bahkan lalat itu sudah bertelur sangat banyak. Saya membersihkan badannya dari telur lalat itu. Ia tidak bertahan lama, keesokan harinya Oreo meninggalkan kami sekeluarga di garasi mobil.

Tentang anak-anak

Saya dan istri sepakat untuk sementara belum memberi tahu kabar ini kepada ketiga anak kami, terutama anak pertama kami yang masih duduk di kelas 2 SD. Kami khawatir bila mereka tahu, mereka akan sangat sedih dan ingin segera pulang. Kami ingin menunggu waktu yang tepat, agar nanti bisa menyampaikan kabar ini dengan lebih lembut, saat mereka sudah siap menerimanya. Namun karena ada kabar susulan bahwa Oreo masih sedikit bergerak, kami pun membawa anak-anak langsung pulang karena barangkali itu terakhir mereka bisa melihatnya. Ternyata benar, Oreo tidak lama meninggalkan kami.

Kenangan

Oreo membawa banyak tawa dan keceriaan di rumah kami, meski hanya sebentar. Kami masih sering teringat caranya berlari kecil, cara tidurnya yang lucu, dan matanya yang polos penuh rasa ingin tahu. Oreo adalah bagian dari keluarga kecil kami, dan kenangan tentangnya akan selalu hidup di hati kami.

Catatan pribadi

Saya menulis ini agar kenangan tentang Oreo tetap tersimpan. Ia mungkin tidak lama bersama kami, tapi kehadirannya meninggalkan kesan yang dalam dan hangat — kenangan kecil yang tidak akan terlupakan. Terakhir kali saya menangisi hewan adalah ketika masih SD, dan ternyata hari kemarin terulang lagi. Semoga Oreo tenang di alam sana.

Video Kenangan