Akromegali adalah kelainan endokrin yang disebabkan oleh kelebihan produksi hormon pertumbuhan (GH; growth hormone) oleh kelenjar hipofisis setelah lempeng pertumbuhan epifisis menutup, biasanya pada masa dewasa. Kondisi ini menyebabkan pertumbuhan berlebih pada tulang dan jaringan lunak, terutama di ekstremitas, wajah, dan organ internal. Berbeda dengan gigantisme yang terjadi sebelum penutupan lempeng pertumbuhan, akromegali tidak menyebabkan peningkatan tinggi badan yang signifikan tetapi menimbulkan perubahan fisik yang progresif dan seringkali ireversibel jika tidak ditangani. Prevalensinya diperkirakan sekitar 20-70 kasus per juta populasi, dengan insidensi tahunan sekitar 3-4 kasus per juta. Akromegali umumnya berkembang secara perlahan selama bertahun-tahun, sehingga diagnosis seringkali tertunda, dan kerusakan kumulatif pada organ dan jaringan dapat terjadi sebelum pengobatan dimulai.

Etiologi

Penyebab paling umum dari akromegali adalah adenoma hipofisis yang menghasilkan GH secara berlebihan. Adenoma ini biasanya bersifat jinak dan berasal dari sel somatotrop di kelenjar hipofisis. Sekitar 95% kasus akromegali disebabkan oleh adenoma hipofisis. Penyebab lain yang lebih jarang meliputi:

  1. Tumor neuroendokrin di luar hipofisis, seperti tumor di paru-paru, pankreas, atau kelenjar adrenal, yang menghasilkan hormon pelepas hormon pertumbuhan (GHRH; *growth hormone-releasing hormone*) atau GH itu sendiri.
  2. Sindrom genetik tertentu, seperti sindrom Carney- Albright, sindrom McCune-Albright, meningioma, dan kompleks Von Hippel-Lindau.
  3. Iatrogenik, seperti paparan radiasi kepala pada masa kanak-kanak yang meningkatkan risiko perkembangan adenoma hipofisis di kemudian hari.

Patofisiologi

Kelebihan GH menyebabkan peningkatan produksi faktor pertumbuhan mirip insulin 1 (IGF-1; *insulin-like growth factor 1*) di hati. GH dan IGF-1 bekerja secara sinergis untuk merangsang pertumbuhan sel, proliferasi, dan deposisi matriks ekstraseluler di berbagai jaringan. Peningkatan kadar GH dan IGF-1 yang persisten inilah yang mendasari manifestasi klinis akromegali. GH memiliki efek metabolik yang kompleks, termasuk peningkatan lipolisis, retensi natrium dan air, serta efek anti-insulin yang dapat menyebabkan resistensi insulin dan diabetes melitus.

Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis akromegali sangat bervariasi antar individu dan berkembang secara bertahap. Perubahan fisik seringkali disadari pertama kali oleh anggota keluarga atau teman dekat.

Perubahan Fisik

Perubahan fisik yang paling khas meliputi:

  1. Pembesaran tangan dan kaki, yang seringkali memerlukan penggantian sepatu dan cincin.
  2. Perubahan fitur wajah, seperti penebalan dahi, pembesaran hidung, bibir, dan lidah, serta jarak antar gigi yang melebar (diastema).
  3. Penebalan kulit, peningkatan keringat, dan pertumbuhan rambut tubuh yang berlebihan.
  4. Suara yang menjadi serak akibat pembesaran laring.
  5. Pembentukan benjolan tulang pada tulang belakang (skoliosis) dan tulang rusuk.
  6. Pembesaran organ internal seperti hati, ginjal, dan jantung (kardiomegali).

Gejala Sistemik

Selain perubahan fisik, akromegali dapat menimbulkan berbagai gejala sistemik, antara lain:

  1. Sakit kepala, yang seringkali disebabkan oleh tekanan massa adenoma hipofisis pada struktur sekitar.
  2. Gangguan penglihatan, terutama penglihatan tepi (hemianopsia bitemporal), akibat penekanan saraf optik oleh tumor hipofisis.
  3. Nyeri sendi (artralgia) dan osteoartritis.
  4. Sindrom terowongan karpal bilateral.
  5. Kelelahan dan kelemahan otot.
  6. Gangguan tidur, termasuk sleep apnea obstruktif.
  7. Perubahan metabolisme, seperti diabetes melitus atau intoleransi glukosa.
  8. Hipertensi.

Diagnosis

Diagnosis akromegali didasarkan pada kombinasi evaluasi klinis, pemeriksaan laboratorium, dan pencitraan.

Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium bertujuan untuk mengukur kadar GH dan IGF-1.

  1. Pengukuran kadar IGF-1 serum adalah pemeriksaan awal yang paling sensitif. Kadar IGF-1 yang meningkat secara konsisten pada orang dewasa hampir selalu menunjukkan kelebihan GH.
  2. Pengukuran GH serum tunggal tidak dapat diandalkan karena GH disekresikan secara pulsatif.
  3. Uji supresi GH dengan glukosa oral (OGTT; *oral glucose tolerance test*) merupakan standar emas untuk mengkonfirmasi diagnosis. Pada individu normal, pemberian glukosa akan menekan sekresi GH. Pada penderita akromegali, penekanan GH tidak terjadi atau hanya minimal.

Pencitraan

  1. Pencitraan resonansi magnetik (MRI; *magnetic resonance imaging*) hipofisis adalah modalitas pencitraan pilihan untuk mendeteksi dan menentukan ukuran serta lokasi adenoma hipofisis.
  2. CT scan dapat digunakan jika MRI tidak tersedia atau dikontraindikasikan.
  3. Pencitraan area lain tubuh seperti paru-paru atau abdomen mungkin diperlukan jika dicurigai adanya tumor non-hipofisis yang menghasilkan GHRH.

Tatalaksana

Tujuan utama tatalaksana akromegali adalah untuk menormalkan kadar GH dan IGF-1, mengurangi ukuran tumor hipofisis, serta meredakan gejala dan mencegah komplikasi. Pilihan tatalaksana meliputi pembedahan, radioterapi, dan terapi medikamentosa.

Pembedahan

Pembedahan hipofisektomi transfenoidal adalah terapi lini pertama yang paling efektif, terutama untuk adenoma hipofisis yang kecil (<10 mm). Pengangkatan tumor secara total dapat menyebabkan remisi pada sebagian besar pasien.

Radioterapi

Radioterapi stereotaktik (seperti Gamma Knife) atau radioterapi eksternal dapat dipertimbangkan sebagai terapi tambahan setelah pembedahan atau sebagai terapi utama jika pembedahan tidak memungkinkan atau tidak berhasil menurunkan kadar GH.

Terapi Medikamentosa

Terapi medikamentosa digunakan untuk pasien yang tidak mencapai remisi setelah pembedahan atau radioterapi, atau sebagai terapi lini pertama jika pembedahan tidak memungkinkan. Obat-obatan yang umum digunakan meliputi:

  1. Analog somatostatin: Obat seperti oktreotid dan lanreotid menekan sekresi GH.
  2. Antagonis reseptor GH: Pegvisomant memblokir efek GH pada reseptornya di jaringan perifer.
  3. Agonis dopamin: Bromokriptin dan kabergoin dapat menurunkan kadar GH pada sebagian kecil pasien.

Prognosis

Dengan tatalaksana yang adekuat, kadar GH dan IGF-1 dapat dinormalkan, yang secara signifikan dapat meningkatkan kualitas hidup dan memperpanjang harapan hidup pasien. Namun, komplikasi jangka panjang seperti penyakit kardiovaskular, diabetes melitus, dan keganasan tertentu masih dapat terjadi jika pengobatan tidak optimal. Pemeriksaan tindak lanjut secara berkala sangat penting untuk memantau respons terhadap terapi dan mendeteksi kekambuhan.