Perbedaan Black Box Testing dan White Box Testing

Revision as of 01:27, 27 July 2025 by Budi (talk | contribs) (Batch created by Azure OpenAI)
(diff) ← Older revision | Latest revision (diff) | Newer revision → (diff)

Dalam dunia pengujian perangkat lunak, Black Box Testing dan White Box Testing merupakan dua pendekatan utama yang digunakan untuk memastikan kualitas aplikasi. Keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu mendeteksi kesalahan dan ketidaksesuaian, namun berbeda dalam cara kerja dan pengetahuan yang dibutuhkan oleh penguji.

Definisi dan Fokus Pengujian

Black box testing berfokus pada pengujian fungsi aplikasi tanpa mengetahui struktur internal atau kode program. Penguji hanya memberikan input dan memeriksa output yang dihasilkan. Sebaliknya, white box testing memerlukan pemahaman mendalam tentang kode sumber dan logika program, sehingga pengujian dilakukan pada tingkat struktur internal perangkat lunak.

Kelebihan dan Kekurangan

Keunggulan utama black box testing adalah kemampuannya dalam menemukan kesalahan terkait fungsionalitas, terutama pada antarmuka pengguna dan komunikasi antar sistem. Namun, kekurangannya terletak pada ketidakmampuannya mendeteksi kesalahan di dalam logika internal program. Sementara itu, white box testing sangat efektif dalam memeriksa alur logika dan struktur kode, tetapi kurang mampu mengidentifikasi masalah fungsional pada tingkat pengguna.

Kapan Digunakan

Kedua metode ini sering digunakan secara bersamaan dalam proses software testing untuk memberikan jaminan kualitas yang komprehensif. Black box testing biasanya diterapkan pada tahap pengujian sistem dan penerimaan pengguna, sedangkan white box testing lebih sering digunakan pada tahap pengujian unit dan integrasi.