Diagnosis ADHD memerlukan proses yang menyeluruh dan tidak hanya didasarkan pada observasi singkat. Proses diagnosis biasanya melibatkan wawancara, observasi perilaku, serta penggunaan alat ukur atau kuesioner tertentu untuk memastikan kriteria yang sesuai.
Proses Wawancara dan Observasi
Dokter atau psikolog akan mewawancarai orang tua, guru, dan anak untuk mengidentifikasi gejala ADHD. Informasi tentang perilaku anak di berbagai lingkungan sangat penting untuk memastikan bahwa gejala muncul secara konsisten.
Kriteria Diagnosis
Penentuan diagnosis ADHD mengacu pada kriteria yang tertulis dalam DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, edisi ke-5). Kriteria ini mencakup durasi, intensitas, dan dampak gejala terhadap kehidupan sehari-hari. Setidaknya gejala harus muncul sebelum usia 12 tahun dan terjadi di lebih dari satu lingkungan.
Tantangan dalam Diagnosis
Diagnosis ADHD sering kali mengalami kesulitan karena gejalanya mirip dengan kondisi lain seperti gangguan kecemasan atau gangguan belajar. Oleh karena itu, penting untuk melakukan evaluasi menyeluruh agar diagnosis yang diberikan tepat.