Lompat ke isi

Qada' dan qadar

Dari Wiki Berbudi
Revisi sejak 25 Desember 2025 16.06 oleh Budi (bicara | kontrib) (Dalil Naqli tentang Qada' dan Qadar)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

Qada' dan qadar adalah dua konsep teologis fundamental dalam ajaran Islam yang seringkali dibahas secara bersamaan, meskipun memiliki makna dan cakupan yang berbeda. Pemahaman yang benar mengenai keduanya sangat penting bagi seorang Muslim dalam menjalani kehidupan sehari-hari, karena berkaitan erat dengan pandangan dunia (worldview) dan bagaimana seseorang merespons berbagai peristiwa. Konsep ini menyentuh aspek kehendak bebas manusia, peran Tuhan, serta makna takdir dan usaha.

Definisi Qada'

Secara etimologis, kata "qada'" berasal dari bahasa Arab yang memiliki makna penetapan, keputusan, atau penyelesaian. Dalam konteks teologi Islam, qada' merujuk pada keputusan akhir atau ketetapan Allah yang bersifat mutlak dan tidak dapat diubah lagi. Ini adalah apa yang telah ditetapkan oleh Allah sejak zaman azali, yang meliputi segala sesuatu yang akan terjadi di alam semesta, baik yang besar maupun yang kecil. Qada' bersifat universal dan mencakup seluruh eksistensi.

Definisi Qadar

Sementara itu, "qadar" secara etimologis berarti ukuran, ketetapan, atau kadar. Dalam terminologi Islam, qadar merujuk pada ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu, serta bagaimana segala sesuatu itu terjadi sesuai dengan ilmu-Nya. Qadar adalah manifestasi dari ilmu dan kehendak Allah yang terukur dan terperinci. Ini adalah bagaimana Allah mengukur dan mengatur segala sesuatu agar terjadi sesuai dengan ketetapan-Nya.

Hubungan Antara Qada' dan Qadar

Meskipun berbeda dalam cakupan, qada' dan qadar saling terkait erat dan tidak dapat dipisahkan. Qadar adalah proses penetapan ukuran dan detail dari apa yang akan terjadi, sedangkan qada' adalah hasil akhir dari penetapan tersebut. Bisa dianalogikan, qadar adalah cetak biru atau rancangan yang dibuat oleh Allah, sementara qada' adalah bangunan yang telah selesai dibangun sesuai dengan cetak biru tersebut. Ilmu Allah (qadar) mendahului penciptaan dan kejadian, dan qada' adalah realisasi dari ilmu tersebut.

Tingkatan Iman kepada Qada' dan Qadar

Iman kepada qada' dan qadar merupakan salah satu dari enam rukun iman dalam Islam. Para ulama membagi keimanan ini ke dalam beberapa tingkatan untuk pemahaman yang lebih mendalam:

  1. Iman bahwa Allah mengetahui segala sesuatu (ilmu).
  2. Iman bahwa Allah telah menulis segala sesuatu di Lauh Mahfuzh (kitabah).
  3. Iman bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah (masyi'ah).
  4. Iman bahwa Allah adalah pencipta segala sesuatu, termasuk perbuatan manusia (khalq).

Peran Usaha (Ikhtiar)

Salah satu aspek paling kompleks dari qada' dan qadar adalah bagaimana konsep ini berinteraksi dengan kehendak bebas manusia atau ikhtiar. Islam mengajarkan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk memilih dan berbuat (ikhtiar). Segala perbuatan manusia yang baik maupun buruk adalah hasil dari pilihan mereka sendiri, dan mereka akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan tersebut. Namun, ikhtiar manusia itu sendiri juga termasuk dalam ketetapan Allah.

Dalil Naqli tentang Qada' dan Qadar

Banyak ayat Al-Qur'an dan hadis Nabi Muhammad ﷺ yang menegaskan pentingnya iman kepada qada' dan qadar. Salah satu ayat yang sering dikutip adalah: QS. Al-Hadid (57): 22

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الأَرْضِ وَلا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Yang artinya: "Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah."

Pemahaman yang Benar dan Kesalahpahaman

Kesalahpahaman umum mengenai qada' dan qadar adalah menganggapnya sebagai takdir mutlak yang menghilangkan peran usaha manusia, sehingga mendorong sikap fatalisme. Pandangan ini keliru karena mengabaikan aspek ikhtiar dan tanggung jawab manusia. Sebaliknya, pemahaman yang benar adalah bahwa Allah mengetahui segala usaha yang akan dilakukan manusia dan telah menetapkan hasilnya.

Manfaat Beriman kepada Qada' dan Qadar

Mengimani qada' dan qadar dengan benar memiliki banyak manfaat spiritual dan psikologis bagi seorang Muslim:

  1. Memberikan ketenangan hati ketika menghadapi kesulitan atau musibah.
  2. Mendorong rasa syukur ketika mendapatkan nikmat.
  3. Menguatkan kesabaran dalam menghadapi cobaan.
  4. Menghilangkan kesombongan ketika meraih kesuksesan.
  5. Meningkatkan keyakinan kepada Allah.

Perbedaan Pandangan dalam Islam

Meskipun rukun iman ini disepakati oleh seluruh umat Islam, terdapat perbedaan nuansa dalam penekanan dan penjelasan di antara berbagai aliran teologi Islam (kalam). Aliran Mu'tazilah, misalnya, lebih menekankan keadilan Allah dan kebebasan mutlak manusia, yang berimplikasi pada pandangan mereka tentang qada' dan qadar. Sementara itu, aliran Asy'ariyah dan Maturidiyah memiliki pandangan yang lebih moderat, menegaskan kekuasaan Allah yang mutlak namun tetap mengakui adanya ikhtiar manusia.

Qada' dan Qadar dalam Kehidupan Sehari-hari

Dalam praktik sehari-hari, beriman kepada qada' dan qadar berarti menerima segala ketetapan Allah dengan lapang dada, baik yang menyenangkan maupun yang tidak. Ini juga berarti berusaha semaksimal mungkin (berikhtiar) dalam setiap urusan, kemudian bertawakkal (berserah diri) kepada Allah atas hasilnya. Upaya yang dilakukan adalah bagian dari takdir Allah, dan hasilnya adalah manifestasi dari ketetapan-Nya.

Pentingnya Ilmu dan Tawakkal

Banyak ulama menekankan pentingnya memiliki ilmu yang benar mengenai qada' dan qadar agar tidak terjebak dalam kesalahpahaman. Selain itu, tawakkal yang tulus kepada Allah setelah berikhtiar adalah buah dari keimanan yang kokoh. Tawakkal bukanlah sikap pasrah tanpa usaha, melainkan penyerahan hasil akhir setelah mengerahkan segala kemampuan.

Kesimpulan

Qada' dan qadar merupakan pilar penting dalam akidah Islam yang membentuk cara pandang seorang Muslim terhadap kehidupan. Memahami keduanya secara mendalam, dengan mengintegrasikan aspek ilmu Allah, kehendak-Nya, serta peran ikhtiar dan tanggung jawab manusia, akan membawa ketenangan, kesabaran, dan kekuatan spiritual dalam menghadapi segala aspek kehidupan. Ini adalah konsep yang mengajarkan keseimbangan antara penerimaan takdir dan usaha aktif dalam menjalani kehidupan.