Lompat ke isi

Tokoh-tokoh Penting dalam Sejarah Hacking

Dari Wiki Berbudi
Revisi sejak 17 Desember 2025 07.45 oleh Budi (bicara | kontrib) (←Membuat halaman berisi 'Sejarah hacking (peretasan) memiliki akar yang kompleks dan sering disalahpahami, bermula dari keingintahuan intelektual murni hingga berkembang menjadi pilar utama dalam keamanan siber modern. Pada awalnya, istilah ini tidak berkonotasi negatif, melainkan merujuk pada tindakan memodifikasi sistem atau perangkat keras untuk mencapai tujuan yang tidak terduga atau lebih efisien. Evolusi budaya ini berjalan seiring dengan perkembangan komputer mainframe, jaring...')
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

Sejarah hacking (peretasan) memiliki akar yang kompleks dan sering disalahpahami, bermula dari keingintahuan intelektual murni hingga berkembang menjadi pilar utama dalam keamanan siber modern. Pada awalnya, istilah ini tidak berkonotasi negatif, melainkan merujuk pada tindakan memodifikasi sistem atau perangkat keras untuk mencapai tujuan yang tidak terduga atau lebih efisien. Evolusi budaya ini berjalan seiring dengan perkembangan komputer mainframe, jaringan internet, dan perangkat lunak, di mana para individu yang terlibat sering kali berada di garis depan inovasi teknologi. Peran tokoh-tokoh dalam sejarah ini sangat krusial karena mereka membentuk standar, etika, dan infrastruktur digital yang digunakan oleh masyarakat global saat ini.

Perkembangan hacking dapat ditelusuri kembali ke laboratorium universitas pada pertengahan abad ke-20, di mana akses ke komputer sangat terbatas dan eksklusif. Para peretas awal ini adalah penggemar teknologi yang berusaha memahami logika mesin secara mendalam. Seiring berjalannya waktu, motivasi dan metode mereka berevolusi, melahirkan berbagai spektrum aktivitas mulai dari aktivisme digital (hacktivism), spionase siber, hingga pengujian keamanan profesional. Memahami tokoh-tokoh kunci dalam sejarah ini memberikan wawasan tentang bagaimana kerentanan dalam sistem informasi ditemukan dan bagaimana mekanisme pertahanan dikembangkan sebagai responsnya.

Asal Usul di MIT dan Tech Model Railroad Club

Istilah "hack" dalam konteks teknologi pertama kali dipopulerkan di Massachusetts Institute of Technology (MIT) pada tahun 1960-an oleh anggota Tech Model Railroad Club (TMRC). Salah satu tokoh yang sering dikaitkan dengan era ini adalah Alan Kotok dan rekan-rekannya yang bekerja dengan komputer DEC PDP-1. Mereka tidak berusaha merusak sistem, melainkan mencoba mengoptimalkan kode program agar berjalan lebih cepat dan efisien. Semangat eksplorasi ini melahirkan filosofi bahwa informasi harus bersifat bebas dan akses ke komputer harus tidak terbatas, yang kemudian dikenal sebagai Hacker Ethic.

Pada periode yang sama, tokoh seperti Steve "Slug" Russell menciptakan Spacewar!, salah satu permainan video digital pertama. Karyanya membuktikan bahwa komputer dapat digunakan untuk hiburan interaktif, bukan hanya perhitungan matematis yang kaku. Para peretas di era ini berfokus pada keanggunan kode (code elegance) dan efisiensi algoritmik. Mereka meletakkan dasar bagi sistem operasi modern seperti Unix, yang dikembangkan oleh Ken Thompson dan Dennis Ritchie, yang memungkinkan manipulasi sistem file dan proses secara modular.

Era Phone Phreaking

Sebelum komputer pribadi menjadi umum, para peretas mengeksplorasi jaringan telepon global, sebuah aktivitas yang dikenal sebagai Phone Phreaking. Tokoh sentral dalam gerakan ini adalah John Draper, yang lebih dikenal dengan julukan "Captain Crunch". Draper menemukan bahwa peluit mainan yang terdapat dalam kotak sereal Cap'n Crunch menghasilkan nada dengan frekuensi tepat 2600 Hz. Frekuensi ini digunakan oleh sentral telepon AT&T untuk menandakan bahwa saluran telepon sedang kosong, memungkinkan pengguna untuk melakukan panggilan jarak jauh secara gratis dengan memanipulasi sinyal tersebut.

Draper dan rekan-rekannya, termasuk Steve Wozniak dan Steve Jobs (sebelum mendirikan Apple), membangun perangkat elektronik untuk mengeksploitasi sistem telepon ini. Perangkat-perangkat tersebut dikategorikan berdasarkan warna dan fungsinya:

  1. Blue Box: Alat yang menghasilkan nada 2600 Hz untuk mengambil alih kontrol trunk telepon dan melakukan panggilan gratis.
  2. Black Box: Perangkat yang memanipulasi tegangan saluran untuk mencegah penelepon dikenakan biaya saat menelepon nomor tertentu.
  3. Red Box: Alat yang mensimulasikan suara koin yang dimasukkan ke dalam telepon umum.

Revolusi Komputer Pribadi dan Perangkat Lunak Bebas

Pada tahun 1980-an, fokus beralih ke perangkat lunak dan hak cipta. Richard Stallman adalah tokoh monumental yang mendirikan Free Software Foundation (FSF) dan meluncurkan Proyek GNU. Stallman menentang pembatasan kepemilikan perangkat lunak dan percaya bahwa pengguna harus memiliki kebebasan untuk menjalankan, menyalin, mendistribusikan, mempelajari, mengubah, dan meningkatkan perangkat lunak. Filosofi ini menjadi antitesis dari model bisnis perangkat lunak tertutup (proprietary) yang mulai mendominasi industri pada saat itu.

Kontribusi Stallman membuka jalan bagi Linus Torvalds, seorang mahasiswa Finlandia yang pada tahun 1991 merilis kernel Linux. Torvalds menggunakan lisensi GNU General Public License (GPL) yang dirancang oleh Stallman, memungkinkan ribuan pengembang di seluruh dunia untuk berkontribusi pada kode sumbernya. Kolaborasi global ini membuktikan bahwa model pengembangan terbuka (open source) dapat menghasilkan sistem yang stabil dan aman, yang kini menjadi tulang punggung sebagian besar server internet di dunia.

Kriminalisasi dan Insiden Morris Worm

Sisi gelap dari kemampuan teknis mulai mendapat perhatian publik secara luas melalui tindakan Robert Tappan Morris. Pada tahun 1988, Morris, yang saat itu merupakan mahasiswa pascasarjana di Cornell University, melepaskan apa yang kini dikenal sebagai Morris Worm. Cacing komputer ini dirancang untuk mengukur ukuran internet, namun karena kesalahan dalam kodenya, program tersebut mereplikasi diri secara tidak terkendali, melumpuhkan ribuan komputer di jaringan ARPANET dan menyebabkan kerugian finansial yang signifikan.

Insiden ini menjadi titik balik dalam sejarah hukum siber, yang menyebabkan Morris menjadi orang pertama yang didakwa berdasarkan Computer Fraud and Abuse Act di Amerika Serikat. Kasus ini juga menyoroti pentingnya keamanan sistem dan mendorong pembentukan CERT (Computer Emergency Response Team). Di sisi lain, tokoh seperti Kevin Mitnick menjadi simbol dari peretas yang menggunakan Social Engineering (rekayasa sosial) untuk memanipulasi manusia agar memberikan akses ke sistem sensitif, membuktikan bahwa kelemahan terbesar sering kali terletak pada pengguna, bukan hanya pada teknologi.

Evolusi Etika: White Hat, Grey Hat, dan Black Hat

Seiring berkembangnya industri keamanan siber, klasifikasi peretas menjadi lebih terdefinisi berdasarkan niat dan legalitas tindakan mereka. Tokoh-tokoh seperti Tim Berners-Lee (penemu World Wide Web) dapat dianggap sebagai peretas dalam arti positif (White Hat) karena menciptakan sistem yang mengubah dunia secara terbuka. Sebaliknya, kelompok kriminal yang menyebarkan Ransomware dikategorikan sebagai Black Hat. Di antara keduanya, terdapat Grey Hat yang sering kali melanggar hukum untuk mengekspos kerentanan keamanan tanpa niat jahat, namun tanpa izin pemilik sistem. Dinamika ini terus membentuk lanskap keamanan informasi global hingga saat ini.