Isra Mi'raj (bahasa Arab: الإسراء والمعراج, al-’Isrā’ wal-Mi‘rāj) adalah dua bagian dari perjalanan malam yang dilakukan oleh Nabi Muhammad dalam waktu satu malam saja. Kejadian ini merupakan salah satu peristiwa penting bagi umat Islam, karena pada peristiwa inilah Nabi Muhammad mendapat perintah untuk menunaikan salat lima waktu sehari semalam. Peristiwa ini diperingati setiap tanggal 27 Rajab dalam kalender Hijriyah. Bagi umat Islam, Isra Mi'raj bukan hanya sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan spiritual yang mendalam yang menandai tonggak sejarah dalam risalah kenabian.
Peristiwa ini sering kali digambarkan sebagai perjalanan mukjizat yang menembus batas ruang dan waktu. Secara umum, Isra Mi'raj terbagi dalam dua fase utama, yaitu perjalanan dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem, dan perjalanan dari Masjidil Aqsa naik ke langit ketujuh hingga ke Sidratul Muntaha. Dalam tradisi Islam, peristiwa ini diyakini terjadi pada periode akhir kenabian di Mekkah, sebelum Nabi Muhammad melakukan Hijrah ke Madinah.
Etimologi dan Definisi
Kata Isra berasal dari Bahasa Arab yang berarti perjalanan malam. Secara spesifik dalam konteks teologi Islam, Isra merujuk pada perjalanan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Palestina. Jarak geografis yang jauh antara kedua kota tersebut pada abad ke-7 Masehi biasanya ditempuh dalam waktu berminggu-minggu menggunakan unta, namun dalam peristiwa ini ditempuh dalam waktu yang sangat singkat. Hal ini digambarkan dalam Al-Qur'an surah Al-Isra ayat 1 yang menegaskan kekuasaan Allah dalam memperjalankan hamba-Nya.
Sementara itu, Mi'raj berarti alat untuk naik atau tangga. Dalam terminologi Islam, Mi'raj adalah perjalanan naiknya Nabi Muhammad dari Masjidil Aqsa menembus lapisan-lapisan langit (samawat) hingga mencapai Sidratul Muntaha, sebuah tempat tertinggi di mana beliau menerima perintah langsung dari Allah. Gabungan kedua kata ini membentuk istilah Isra Mi'raj yang merangkum keseluruhan peristiwa perjalanan horizontal (bumi ke bumi) dan vertikal (bumi ke langit) tersebut.
Latar Belakang Sejarah
Peristiwa Isra Mi'raj terjadi pada masa yang dikenal sebagai Amul Huzni atau Tahun Kesedihan. Pada periode ini, Nabi Muhammad mengalami kehilangan dua sosok pendukung utama dakwahnya, yaitu pamannya Abu Thalib dan istri tercintanya Khadijah. Kematian keduanya memberikan dampak psikologis dan sosiologis yang berat bagi Nabi, mengingat tekanan dan intimidasi dari kaum Quraisy semakin meningkat pasca hilangnya perlindungan politik dari Abu Thalib.
Dalam konteks sejarah sirah nabawiyah, Isra Mi'raj dianggap sebagai bentuk tasliyah (hiburan) dan penguatan spiritual dari Allah kepada Nabi Muhammad. Melalui perjalanan ini, Allah memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya dan mempertemukan Muhammad dengan para nabi terdahulu, yang berfungsi untuk meneguhkan hati beliau dalam menghadapi tantangan dakwah yang semakin berat di Mekkah. Mayoritas sejarawan Islam, seperti Ibnu Ishaq, menempatkan peristiwa ini sekitar satu tahun sebelum Hijrah, atau sekitar tahun 621 Masehi.
Peristiwa Isra
Perjalanan Isra dimulai dari Masjidil Haram. Menurut riwayat Hadis yang populer, Nabi Muhammad didatangi oleh malaikat Jibril yang membawa hewan tunggangan bernama Buraq. Buraq digambarkan sebagai hewan putih, lebih besar dari keledai tetapi lebih kecil dari bagal, yang memiliki kecepatan luar biasa di mana satu langkah kakinya mencapai sejauh mata memandang. Nabi Muhammad kemudian mengendarai Buraq tersebut menuju Baitul Maqdis (Masjidil Aqsa).
Setibanya di Yerusalem, Nabi Muhammad melakukan salat dua rakaat di Masjidil Aqsa. Di tempat ini, diyakini bahwa beliau memimpin salat berjamaah (menjadi imam) bagi ruh para nabi dan rasul terdahulu. Pertemuan ini menyimbolkan kesinambungan risalah tauhid yang dibawa oleh para nabi sejak masa Nabi Adam hingga Nabi Muhammad sebagai penutup para nabi (Khatamun Nabiyyin).
Peristiwa Mi'raj
Setelah menyelesaikan urusan di Yerusalem, fase Mi'raj dimulai. Jibril membawa Nabi Muhammad naik menembus tujuh lapisan langit. Di setiap lapisan langit, beliau bertemu dengan nabi-nabi terdahulu. Di langit pertama beliau bertemu Nabi Adam, di langit kedua bertemu Nabi Isa dan Nabi Yahya, di langit ketiga bertemu Nabi Yusuf, di langit keempat bertemu Nabi Idris, di langit kelima bertemu Nabi Harun, di langit keenam bertemu Nabi Musa, dan di langit ketujuh bertemu Nabi Ibrahim.
Puncak dari perjalanan Mi'raj adalah ketika Nabi Muhammad mencapai Sidratul Muntaha, sebuah pohon bidara yang menandai batas akhir pengetahuan makhluk, yang tidak dapat dilewati oleh siapapun termasuk malaikat Jibril. Di tempat ini, Nabi Muhammad menghadap Allah (munajat) dan menerima perintah kewajiban salat. Lokasi ini digambarkan dalam Al-Qur'an Surah An-Najm sebagai tempat yang diliputi oleh misteri ilahiah dan keindahan yang tak terlukiskan.
Perintah Salat Lima Waktu
Inti dari perjalanan Mi'raj adalah penetapan kewajiban salat bagi umat Islam. Pada awalnya, Allah memerintahkan umat Muhammad untuk melaksanakan salat sebanyak 50 kali dalam sehari semalam. Namun, ketika turun dan bertemu dengan Nabi Musa, Nabi Muhammad disarankan untuk meminta keringanan (rukhsah) karena umatnya dinilai tidak akan sanggup menanggung beban tersebut.
Nabi Muhammad kemudian bolak-balik menghadap Allah untuk memohon keringanan hingga akhirnya jumlah salat dikurangi menjadi lima waktu sehari semalam. Meskipun jumlahnya berkurang secara kuantitas, Allah menjanjikan bahwa pahala lima waktu tersebut setara dengan lima puluh kali salat. Peristiwa ini menegaskan posisi salat sebagai ibadah utama (tiang agama) dalam Islam yang perintahnya diterima langsung tanpa perantara malaikat.
Aspek Kronologi dan Matematika
Penentuan tahun terjadinya Isra Mi'raj sering kali dikaitkan dengan konversi kalender Hijriyah dan Masehi, meskipun kalender Hijriyah baru ditetapkan pada masa Umar bin Khattab. Para sejarawan umumnya sepakat peristiwa ini terjadi sekitar tahun 620-621 Masehi. Untuk mengonversi tahun Hijriyah (H) ke Masehi (G) atau sebaliknya dalam konteks sejarah, sejarawan kadang menggunakan pendekatan matematis sederhana mengingat perbedaan siklus bulan dan matahari.
Secara umum, rumus pendekatan konversi tahun yang sering digunakan dalam studi sejarah Islam adalah: Di mana adalah tahun Masehi (Gregorian) dan adalah tahun Hijriyah. Namun, karena Isra Mi'raj terjadi sebelum Hijrah (tahun 0 Hijriyah), perhitungan mundur dari tanggal wafatnya Nabi atau peristiwa Hijrah lebih sering digunakan sebagai patokan akurat daripada rumus linear tersebut.
Perspektif Ilmiah dan Teologis
Peristiwa Isra Mi'raj menimbulkan diskusi panjang di kalangan teolog dan cendekiawan mengenai sifat perjalanannya. Kelompok mayoritas Ahlu Sunnah wal Jama'ah meyakini bahwa perjalanan tersebut dilakukan dengan ruh dan jasad (fisik) dalam keadaan sadar (yaqzah), bukan mimpi. Keyakinan ini didasarkan pada kata subhana (Maha Suci) di awal ayat Al-Isra yang mengindikasikan adanya peristiwa luar biasa atau mukjizat.
Dari sudut pandang ilmiah modern, beberapa cendekiawan Muslim kontemporer mencoba mendekati peristiwa ini dengan teori Relativitas waktu atau dimensi ruang-waktu. Konsep perjalanan yang sangat cepat dan kembali dalam waktu singkat sering dikaitkan dengan dilatasi waktu, meskipun hal ini tetap berada dalam ranah iman dan metafisika yang sulit dibuktikan secara empiris menggunakan metode ilmiah konvensional.
Peringatan dan Tradisi
Di Indonesia dan banyak negara berpenduduk mayoritas Muslim lainnya, Isra Mi'raj diperingati sebagai hari besar nasional. Peringatan ini biasanya diisi dengan berbagai kegiatan keagamaan yang bertujuan untuk mengingatkan kembali pentingnya ibadah salat. Tradisi ini telah berakulturasi dengan budaya lokal di berbagai daerah.
Beberapa bentuk kegiatan yang umum dilakukan dalam peringatan Isra Mi'raj meliputi:
- Pengajian Umum: Ceramah agama yang mengupas sejarah dan hikmah peristiwa Isra Mi'raj di masjid-masjid atau instansi pemerintah.
- Rajaban: Tradisi pembacaan kisah Isra Mi'raj (seringkali menggunakan kitab Dardir Mi'raj atau sejenisnya) yang dilakukan masyarakat tradisional di Jawa dan Sunda.
- Lomba Keagamaan: Perlombaan azan, hafalan Al-Qur'an, atau cerdas cermat agama untuk anak-anak dan remaja.
- Salat Berjamaah: Fokus pada perbaikan kualitas salat dan ajakan untuk memakmurkan masjid.
Referensi dalam Kitab Suci
Sumber utama peristiwa ini adalah Al-Qur'an Surah Al-Isra ayat 1 yang menceritakan perjalanan Isra, dan Surah An-Najm ayat 13-18 yang menceritakan peristiwa Mi'raj. Selain itu, detail perjalanan ini direkam secara rinci dalam kitab-kitab hadis shahih, seperti Sahih Bukhari dan Sahih Muslim, yang meriwayatkan dialog antara Nabi Muhammad dengan para nabi terdahulu serta proses penerimaan perintah salat.
Kombinasi dalil naqli (Al-Qur'an dan Hadis) ini menjadi landasan akidah bagi umat Islam untuk mempercayai peristiwa Isra Mi'raj sebagai kebenaran mutlak, terlepas dari keterbatasan logika manusia dalam memahaminya. Ulama menekankan bahwa keimanan terhadap Isra Mi'raj adalah ujian bagi keimanan seorang Muslim terhadap kekuasaan Allah yang tidak terbatas.