Lompat ke isi

Cairan serebrospinal

Dari Wiki Berbudi
Revisi sejak 14 Desember 2025 00.57 oleh Budi (bicara | kontrib) (←Membuat halaman berisi ''''Cairan serebrospinal''' (CSS) atau dalam bahasa Inggris dikenal sebagai ''cerebrospinal fluid'' (CSF) adalah cairan tubuh yang bening, tidak berwarna, dan jernih yang ditemukan di dalam jaringan yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang vertebrata. Cairan ini menempati ruang subaraknoid (ruang antara araknoid mater dan pia mater) serta sistem ventrikel di dalam otak. Secara fisiologis, cairan ini memainkan peran vital dalam perlindungan mekanis...')
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

Cairan serebrospinal (CSS) atau dalam bahasa Inggris dikenal sebagai cerebrospinal fluid (CSF) adalah cairan tubuh yang bening, tidak berwarna, dan jernih yang ditemukan di dalam jaringan yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang vertebrata. Cairan ini menempati ruang subaraknoid (ruang antara araknoid mater dan pia mater) serta sistem ventrikel di dalam otak. Secara fisiologis, cairan ini memainkan peran vital dalam perlindungan mekanis, imunologis, dan kimiawi bagi sistem saraf pusat. Volume total cairan serebrospinal pada manusia dewasa berkisar antara 125 hingga 150 mililiter, yang terus-menerus diproduksi dan diserap kembali dalam siklus yang dinamis untuk menjaga tekanan intrakranial yang stabil.

Produksi utama cairan ini terjadi di pleksus koroid, sebuah jaringan sel ependimal khusus yang terletak di dalam ventrikel otak. Sekitar 70% hingga 80% dari total CSS dihasilkan di sini melalui mekanisme sekresi aktif dan filtrasi plasma darah, sementara sisanya berasal dari sumber ekstrachoroidal seperti epitel ependimal dinding ventrikel dan pembuluh darah di ruang subaraknoid. Proses ini sangat teratur, menghasilkan sekitar 500 mililiter CSS setiap hari, yang berarti seluruh volume cairan terganti sebanyak tiga hingga empat kali dalam periode 24 jam.

Sirkulasi dan Absorpsi

Sirkulasi cairan serebrospinal mengikuti jalur yang spesifik dan searah, didorong oleh pulsasi arteri koroid dan pergerakan silia pada sel ependimal. Cairan mengalir dari ventrikel lateral menuju ventrikel ketiga melalui foramen interventrikular (foramen Monro). Dari sana, cairan bergerak melewati akuaduktus serebral (akuaduktus Sylvius) menuju ventrikel keempat, yang terletak di batang otak. Gangguan pada jalur sempit ini sering menjadi penyebab utama hidrosefalus non-komunikans, suatu kondisi di mana terjadi akumulasi cairan berlebih di dalam otak.

Dari ventrikel keempat, cairan serebrospinal keluar menuju ruang subaraknoid melalui tiga lubang: satu foramen Magendie di garis tengah dan dua foramen Luschka di lateral. Di ruang subaraknoid, cairan ini menyelimuti seluruh permukaan otak dan sumsum tulang belakang, memberikan bantalan hidrolik. Sirkulasi ini tidak hanya mendistribusikan nutrisi tetapi juga berfungsi sebagai sistem pembuangan limbah metabolik dari jaringan saraf, yang kemudian akan dibersihkan melalui sistem limfatik atau diserap kembali ke sirkulasi darah.

Penyerapan kembali CSS terutama terjadi pada villi araknoid atau granulasio araknoid, yang merupakan penonjolan araknoid mater ke dalam sinus vena dural, terutama sinus sagital superior. Mekanisme penyerapan ini bergantung pada gradien tekanan; ketika tekanan CSS melebihi tekanan vena di dalam sinus, katup satu arah pada villi akan terbuka, memungkinkan cairan mengalir ke dalam darah. Keseimbangan antara laju pembentukan dan resistensi terhadap aliran keluar (absorpsi) sangat penting untuk mempertahankan tekanan intrakranial (TIK) yang normal.

Secara matematis, hubungan antara tekanan dan aliran cairan serebrospinal sering dijelaskan dalam model hidrodinamik. Resistensi terhadap aliran keluar (Rout) dapat dihitung jika laju pembentukan (If), tekanan cairan serebrospinal (Pcsf), dan tekanan sinus dural (Pss) diketahui. Persamaan umum yang digunakan dalam studi fisiologis adalah:

Rout=PcsfPssIf

Komposisi Kimia

Meskipun berasal dari plasma darah, komposisi cairan serebrospinal sangat berbeda karena adanya sawar darah-otak yang selektif. Cairan ini mengandung konsentrasi protein yang jauh lebih rendah dibandingkan plasma (sekitar 0,3% dari protein plasma) dan memiliki komposisi elektrolit yang unik. Kadar glukosa dalam CSS umumnya sekitar dua pertiga dari kadar gula darah, sementara konsentrasi ion klorida biasanya lebih tinggi daripada di dalam plasma.

Perbedaan komposisi ini sangat penting untuk menjaga eksitabilitas neuron. Konsentrasi ion kalium (K+), kalsium (Ca2+), dan bikarbonat (HCO3) diatur secara ketat dalam batas yang sempit. Stabilitas lingkungan kimia ini memungkinkan transmisi sinyal saraf berjalan tanpa gangguan yang disebabkan oleh fluktuasi zat-zat dalam darah sistemik. Berikut adalah komponen utama yang biasanya dianalisis dalam sampel CSS:

  1. Glukosa: Sumber energi utama untuk otak, kadarnya menurun drastis pada infeksi bakteri.
  2. Protein: Kadar normal yang rendah (15-45 mg/dL) dapat meningkat pada kondisi inflamasi atau sindrom Guillain-Barré.
  3. Sel darah putih: Biasanya sangat sedikit (0-5 sel/µL); peningkatan jumlahnya (pleositosis) menandakan adanya infeksi atau peradangan.
  4. Laktat: Indikator metabolisme anaerobik yang sering meningkat pada meningitis bakterial atau iskemia serebral.

Fungsi Fisiologis

Fungsi utama cairan serebrospinal adalah sebagai pelindung mekanis melalui prinsip daya apung (buoyancy). Massa otak manusia rata-rata adalah sekitar 1.400 gram, namun karena terendam dalam CSS, berat bersihnya berkurang menjadi setara dengan 25 hingga 50 gram saja. Pengurangan berat efektif ini mencegah otak menekan pembuluh darah di bagian bawahnya sendiri dan mengurangi risiko cedera akibat benturan kepala ringan dengan mengubah momentum gaya yang diterima.

Fungsi kedua yang tidak kalah penting adalah perlindungan kimiawi atau homeostasis. CSS bertindak sebagai penyangga (buffer) kimia yang mendistribusikan zat-zat neuroendokrin dan membuang produk sisa metabolisme yang bersifat toksik bagi sel saraf, seperti laktat dan ion hidrogen berlebih. Sistem ini memungkinkan otak untuk tetap berfungsi optimal meskipun terjadi perubahan signifikan pada kimia darah tubuh secara umum.

Selain itu, cairan serebrospinal berperan dalam autoregulasi aliran darah otak melalui mekanisme yang melibatkan respons terhadap pH dan tekanan parsial karbon dioksida. Peningkatan kadar karbon dioksida dalam CSS akan menurunkan pH, yang kemudian memicu vasodilatasi pembuluh darah otak untuk meningkatkan aliran darah dan pembuangan CO2. Mekanisme umpan balik ini sangat krusial dalam menjaga oksigenasi jaringan otak yang memadai.

Signifikansi Klinis

Analisis cairan serebrospinal merupakan prosedur diagnostik "standar emas" untuk berbagai kondisi neurologis. Prosedur pengambilan cairan ini, yang dikenal sebagai pungsi lumbal (lumbar puncture), melibatkan penusukan jarum ke ruang subaraknoid di antara vertebra lumbal (biasanya L3-L4 atau L4-L5). Prosedur ini dilakukan di area tersebut karena sumsum tulang belakang berakhir di level yang lebih tinggi, sehingga risiko cedera saraf menjadi minimal.

Sampel yang diambil kemudian dianalisis untuk mendeteksi keberadaan patogen, sel abnormal, atau penanda biokimia. Pada kasus meningitis, analisis CSS dapat membedakan apakah penyebabnya adalah bakteri, virus, atau jamur, yang sangat menentukan jenis pengobatan yang akan diberikan. Selain infeksi, analisis CSS juga digunakan untuk mendiagnosis penyakit autoimun seperti Multiple Sclerosis melalui deteksi pita oligoklonal.

Gangguan pada dinamika cairan serebrospinal dapat menyebabkan kondisi patologis yang serius. Jika jalur sirkulasi tersumbat atau penyerapan terganggu, volume cairan akan meningkat, menyebabkan hidrosefalus. Pada bayi, hal ini menyebabkan pembesaran ukuran kepala karena sutura tengkorak belum menyatu, sedangkan pada orang dewasa, hal ini menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial yang dapat berakibat fatal berupa herniasi otak jika tidak segera ditangani dengan pemasangan shunt ventrikuloperitoneal.