Dalam pendekatan teori belajar humanistik, guru tidak lagi berperan sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. Sebaliknya, guru dianggap sebagai fasilitator yang membantu siswa untuk menemukan dan mengembangkan potensi dirinya. Perubahan peran ini menuntut guru untuk lebih peka terhadap kebutuhan dan perasaan siswa selama proses pembelajaran.

Fasilitator Pembelajaran

Sebagai fasilitator, guru bertugas menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan mendukung. Guru memotivasi siswa untuk aktif bertanya, bereksplorasi, dan menemukan solusi dari permasalahan yang dihadapinya. Pembelajaran yang berpusat pada siswa menjadi ciri khas dari pendekatan ini.

Memberikan Dukungan Emosional

Guru juga harus mampu memberikan dukungan emosional kepada siswa. Hal ini penting untuk membangun rasa percaya diri dan rasa aman, sehingga siswa merasa nyaman dalam mengemukakan pendapat atau bertanya. Komunikasi yang efektif antara guru dan siswa sangat ditekankan dalam teori belajar humanistik.

Mendorong Kemandirian Siswa

Selain itu, guru didorong untuk menumbuhkan kemandirian siswa dalam belajar. Dengan membimbing siswa untuk menetapkan tujuan belajar dan mengevaluasi pencapaian mereka sendiri, guru membantu siswa menjadi individu yang bertanggung jawab atas proses belajarnya.