Penyebab Sindrom Klinefelter

Revisi sejak 28 Juli 2025 22.15 oleh Budi (bicara | kontrib) (Batch created by Azure OpenAI)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

Sindrom Klinefelter merupakan kelainan genetik yang timbul akibat adanya satu kromosom X ekstra pada laki-laki. Kondisi ini tidak diwariskan dari orang tua, melainkan terjadi secara acak saat pembentukan sel telur atau sperma. Keberadaan kromosom tambahan ini menyebabkan perubahan pada perkembangan fisik dan mental individu yang mengidapnya.

Proses Terjadinya Kromosom XXY

Pada kondisi normal, laki-laki memiliki satu kromosom X dan satu kromosom Y (kromosom seks). Pada sindrom Klinefelter, terjadi kesalahan pada proses pembelahan sel yang dikenal sebagai nondisjunction, sehingga sel yang dihasilkan membawa dua kromosom X dan satu kromosom Y.

Faktor Risiko

Tidak ada faktor risiko spesifik yang diketahui meningkatkan kemungkinan lahirnya anak dengan sindrom Klinefelter. Namun, usia ibu yang lebih tua saat melahirkan sedikit meningkatkan risiko terjadinya nondisjunction.

Tidak Diturunkan Secara Genetik

Berbeda dengan beberapa kelainan genetik lain, sindrom Klinefelter umumnya tidak diwariskan dari orang tua ke anak. Mutasi terjadi secara acak selama pembentukan gamet sehingga siapa saja dapat mengalami kondisi ini tanpa riwayat keluarga.