Lompat ke isi

Syekh Muhammad Nawawi Al Jawi Al Bantani

Dari Wiki Berbudi

Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani (lahir di Tanara, Banten, 1813 – meninggal di Makkah, 1897) adalah seorang ulama kaliber internasional dan intelektual Muslim terkemuka asal Indonesia. Beliau pernah menjabat sebagai Imam Besar di Masjidil Haram dan dikenal sebagai penulis yang sangat produktif dengan karya-karya yang menjadi rujukan utama di berbagai pesantren di Nusantara hingga institusi pendidikan di Timur Tengah.

Karena kedalaman ilmunya, beliau mendapat berbagai julukan kehormatan, seperti Sayyid Ulama al-Hijaz (Pemimpin Ulama Hijaz) dan Imam Ulama al-Haramain (Imam Ulama Dua Kota Suci).

Biografi dan Silsilah

Lahir dengan nama Muhammad Nawawi bin Umar di Desa Tanara, Serang, beliau merupakan putra sulung dari tujuh bersaudara. Garis keturunannya tersambung hingga Sultan Maulana Hasanuddin, Sultan Banten pertama. Ayahnya, Syekh Umar bin Arabi, adalah seorang ulama lokal, sementara ibunya bernama Zubaedah.

Syekh Nawawi menikah dengan Nyai Nasimah dan memiliki tiga orang putri: Nafisah, Maryam, dan Rubi'ah.

Perjalanan Pendidikan

Pendidikan agama pertama kali diperoleh dari ayahnya sendiri, mencakup dasar bahasa Arab, tauhid, dan Al-Qur'an. Selanjutnya, beliau berguru kepada KH Sahal dan Syekh Baing Yusuf di Purwakarta.

Pada usia 15 tahun, beliau berangkat ke Makkah untuk menunaikan haji sekaligus memperdalam ilmu agama. Di sana, beliau belajar kepada banyak ulama besar, di antaranya:

  • Syekh Ahmad Khatib asy-Syambasi
  • Syekh Ahmad Zaini Dahlan (Mufti Syafi'iyah)
  • Syekh Junaid al-Batawi


Peran Politik dan Keagamaan

Sekembalinya ke Banten pada tahun 1828, Syekh Nawawi aktif melakukan dakwah. Namun, kegiatannya dibatasi oleh pemerintah Hindia Belanda karena dianggap membangkitkan semangat perlawanan rakyat (terkait dengan pengaruh Perang Diponegoro). Tekanan ini membuatnya memutuskan untuk kembali ke Makkah dan menetap di sana hingga akhir hayatnya.

Di Makkah, beliau mengajar di kawasan Syi'ib 'Ali. Murid-muridnya berasal dari berbagai penjuru dunia, terutama dari komunitas al-Jawwi (Asia Tenggara). Beliau menekankan bahwa kemerdekaan dari kolonialisme adalah syarat penting agar syariat Islam dapat dijalankan secara sempurna di Nusantara.

Pengaruh dan Murid

Syekh Nawawi adalah guru dari para pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesia. Beberapa murid beliau yang berpengaruh antara lain:

Karya Tulis

Beliau menulis lebih dari 115 kitab yang mencakup berbagai disiplin ilmu agama. Berikut adalah beberapa karya fenomenal beliau:

Bidang Ilmu Judul Kitab
Tafsir Marah Labid (Tafsir al-Munir)
Fiqih Kasyifah as-Saja (Syarah Safinatun Najah), Sullam al-Munajah
Tasawuf Nashaihul Ibad, Qami'u ath-Thughyan
Tauhid Tijan ad-Darari, Nur adh-Dhalam
Etika Rumah Tangga Uqud al-Lujain

Wafat

Syekh Nawawi wafat pada 25 Syawal 1314 H (1897 M) dan dimakamkan di kompleks pemakaman Jannatul Mu'alla, Makkah. Meskipun jasadnya berada di Tanah Suci, pengaruhnya tetap kuat di Indonesia melalui tradisi pembacaan "Kitab Kuning" di pesantren-pesantren, serta peringatan haul tahunan yang dipusatkan di Tanara, Banten.