←Membuat halaman berisi ''''Nuh''' (bahasa Ibrani: Nöaḥ, bahasa Arab: Nuh, bahasa Inggris: ''Noah'') adalah tokoh utama dalam narasi banjir besar yang ditemukan dalam Al-Qur'an, Alkitab Ibrani, dan Perjanjian Lama di Alkitab Kristen. Ia dihormati sebagai nabi penting dalam agama-agama Abrahamik, termasuk Yudaisme, Kristen, dan Islam. Dalam tradisi-tradisi tersebut, Nuh digambarkan sebagai seorang patriark yang saleh yang dipilih oleh Tuh...'
 
 
(2 revisi perantara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan)
Baris 10: Baris 10:


Dalam perspektif [[Islam]], Nuh (''Nuh 'alaihis salam'') adalah salah satu dari lima nabi ''Ulul Azmi'', yaitu nabi yang memiliki ketabahan luar biasa. Al-Qur'an menggambarkan Nuh berdakwah selama 950 tahun, menyerukan kaumnya untuk meninggalkan penyembahan berhala seperti [[Wadd]], Suwa', Yaghuts, Ya'uq, dan Nasr, serta kembali menyembah [[Allah]] semata. Berbeda dengan narasi Alkitab yang lebih fokus pada aspek genealogis dan teknis banjir, narasi Qur'ani lebih menekankan pada dialog teologis antara Nuh dan kaum ingkar, termasuk istri dan salah satu anaknya yang menolak untuk naik ke bahtera dan akhirnya tenggelam.
Dalam perspektif [[Islam]], Nuh (''Nuh 'alaihis salam'') adalah salah satu dari lima nabi ''Ulul Azmi'', yaitu nabi yang memiliki ketabahan luar biasa. Al-Qur'an menggambarkan Nuh berdakwah selama 950 tahun, menyerukan kaumnya untuk meninggalkan penyembahan berhala seperti [[Wadd]], Suwa', Yaghuts, Ya'uq, dan Nasr, serta kembali menyembah [[Allah]] semata. Berbeda dengan narasi Alkitab yang lebih fokus pada aspek genealogis dan teknis banjir, narasi Qur'ani lebih menekankan pada dialog teologis antara Nuh dan kaum ingkar, termasuk istri dan salah satu anaknya yang menolak untuk naik ke bahtera dan akhirnya tenggelam.
== Konstruksi dan Dimensi Bahtera ==
Instruksi pembuatan bahtera merupakan salah satu bagian paling teknis dalam literatur kuno mengenai Nuh. Bahtera tersebut dirancang untuk mengapung dan bertahan dari guncangan hidrodinamika air bah, bukan untuk navigasi aktif. Teks kuno memberikan dimensi spesifik menggunakan satuan ''hasta'' (cubit). Jika diasumsikan satu hasta setara dengan ukuran standar kuno sekitar 45 cm atau 0,45 meter, maka volume ruang internal bahtera dapat diestimasi secara matematis untuk menggambarkan kapasitas kargonya.
Menggunakan rumus volume balok sederhana, di mana <math>V</math> adalah volume, <math>p</math> adalah panjang, <math>l</math> adalah lebar, dan <math>t</math> adalah tinggi, kita dapat merepresentasikan kapasitas bahtera. Jika dimensi bahtera adalah 300 hasta panjang, 50 hasta lebar, dan 30 hasta tinggi, maka perhitungan volumenya dalam satuan hasta kubik adalah:
<math>V = 300 \times 50 \times 30 = 450.000 \text{ hasta kubik}</math>
Kapasitas masif ini secara teoretis dimaksudkan untuk menampung logistik makanan, spesimen hewan, dan manusia selama periode banjir yang berlangsung lama. Struktur ini juga dilapisi dengan ''ter'' (sejenis aspal alami) di bagian dalam dan luar untuk memastikan kekedapan air (waterproofing), sebuah teknik perkapalan yang maju pada zamannya.


== Banjir Besar dan Geologi ==
== Banjir Besar dan Geologi ==
Baris 34: Baris 24:


Klasifikasi ini, meskipun tidak sepenuhnya sejalan dengan linguistik atau genetika modern, merupakan cara masyarakat kuno memetakan hubungan antarbangsa dan keragaman etnis yang mereka kenal pada masa itu.
Klasifikasi ini, meskipun tidak sepenuhnya sejalan dengan linguistik atau genetika modern, merupakan cara masyarakat kuno memetakan hubungan antarbangsa dan keragaman etnis yang mereka kenal pada masa itu.
== Perjanjian Pelangi ==
Salah satu elemen penting dalam kisah pasca-banjir adalah penetapan perjanjian ilahi. Tuhan berjanji kepada Nuh dan keturunannya bahwa Ia tidak akan pernah lagi memusnahkan semua makhluk hidup dengan air bah. Sebagai tanda dari perjanjian ini, dimunculkanlah [[pelangi]] (busur di awan). Dalam simbolisme teologis, pelangi merepresentasikan jembatan antara langit dan bumi serta transformasi dari senjata perang (busur panah Tuhan yang digantungkan) menjadi simbol perdamaian dan pelestarian alam semesta. Hal ini menandai era baru dalam hubungan antara divinitas dan kemanusiaan, di mana tatanan alam dijamin keberlangsungannya ("selama bumi masih ada, takkan berhenti musim menabur dan menuai").


== Studi Perbandingan Mitologi ==
== Studi Perbandingan Mitologi ==
Baris 48: Baris 34:


Selama berabad-abad, banyak ekspedisi telah dilakukan untuk menemukan sisa-sisa fisik Bahtera Nuh, sebuah upaya yang dikenal sebagai ''arkeologi bahtera''. Situs yang paling populer adalah anomali [[Durupinar]], sebuah formasi geologis di dekat Gunung Ararat yang menyerupai bentuk lambung kapal raksasa. Meskipun foto udara dan pemindaian radar tanah (GPR) telah dilakukan, konsensus ilmiah geologi arus utama menyatakan bahwa formasi tersebut adalah fenomena alam (lipatan sinklinal) dan bukan struktur buatan manusia. Sampai saat ini, belum ada bukti arkeologis definitif yang telah diverifikasi secara akademis mengenai keberadaan fisik bahtera tersebut.
Selama berabad-abad, banyak ekspedisi telah dilakukan untuk menemukan sisa-sisa fisik Bahtera Nuh, sebuah upaya yang dikenal sebagai ''arkeologi bahtera''. Situs yang paling populer adalah anomali [[Durupinar]], sebuah formasi geologis di dekat Gunung Ararat yang menyerupai bentuk lambung kapal raksasa. Meskipun foto udara dan pemindaian radar tanah (GPR) telah dilakukan, konsensus ilmiah geologi arus utama menyatakan bahwa formasi tersebut adalah fenomena alam (lipatan sinklinal) dan bukan struktur buatan manusia. Sampai saat ini, belum ada bukti arkeologis definitif yang telah diverifikasi secara akademis mengenai keberadaan fisik bahtera tersebut.
== Interpretasi Modern ==
Di era modern, kisah Nuh diinterpretasikan dalam berbagai cara. Kaum literalis memandang narasi ini sebagai sejarah faktual yang akurat secara kronologis dan geologis. Di sisi lain, banyak teolog dan ilmuwan memandangnya sebagai narasi alegoris atau teo-historis yang mengajarkan kebenaran moral dan spiritual alih-alih fakta ilmiah. Dalam pandangan ini, kisah Nuh adalah sarana untuk mengajarkan tentang konsekuensi kerusakan moral dan pentingnya pemeliharaan lingkungan ([[stewardship]]), yang relevan dengan isu-isu ekologis kontemporer.