←Membuat halaman berisi ''''Hacktivism''' (gabungan dari kata ''hack'' dan ''activism'') adalah penggunaan teknik peretasan komputer dan teknologi digital sebagai bentuk sipil untuk mempromosikan tujuan politik, sosial, atau agama. Akar dari fenomena ini terletak pada budaya peretas yang memandang teknologi informasi sebagai alat utama untuk perubahan sosial dan transparansi. Berbeda dengan kejahatan siber yang umumnya dimotivasi oleh keuntungan finansial, hacktivism didorong ole...'
 
 
Baris 9: Baris 9:
== Metode dan Taktik ==
== Metode dan Taktik ==


Metode yang digunakan oleh hacktivist sangat bervariasi, mulai dari gangguan teknis hingga kebocoran informasi strategis. Salah satu teknik yang paling umum adalah serangan ''Distributed Denial of Service'' ([[DDoS]]). Dalam serangan ini, pelaku membanjiri server target dengan lalu lintas data yang sangat tinggi sehingga server tidak dapat melayani pengguna yang sah. Efektivitas serangan amplifikasi DDoS sering kali diukur menggunakan faktor amplifikasi bandwidth (BAF), yang didefinisikan sebagai rasio antara ukuran respons UDP yang dikirim ke target dibandingkan dengan ukuran permintaan yang dikirim ke server reflektor. Secara matematis, jika $L_{resp}$ adalah panjang paket respons dan $L_{req}$ adalah panjang paket permintaan, maka faktor amplifikasi $A$ dapat dinyatakan sebagai:
Metode yang digunakan oleh hacktivist sangat bervariasi, mulai dari gangguan teknis hingga kebocoran informasi strategis. Salah satu teknik yang paling umum adalah serangan ''Distributed Denial of Service'' ([[DDoS]]). Dalam serangan ini, pelaku membanjiri server target dengan lalu lintas data yang sangat tinggi sehingga server tidak dapat melayani pengguna yang sah.  
 
<math>
A = \frac{L_{resp}}{L_{req}}
</math>
 
Di mana nilai $A$ yang tinggi menunjukkan potensi kerusakan yang lebih besar terhadap ketersediaan jaringan target.


Selain serangan terhadap ketersediaan jaringan, ''defacement'' situs web tetap menjadi taktik visual yang populer. Dalam skenario ini, peretas mengeksploitasi kerentanan keamanan web, seperti ''SQL Injection'' atau ''Cross-Site Scripting'' (XSS), untuk mendapatkan akses administratif dan mengganti halaman muka situs dengan pesan manifesto atau propaganda. Meskipun dampak teknisnya sering kali bersifat sementara dan mudah diperbaiki, dampak reputasi terhadap organisasi yang menjadi korban bisa sangat signifikan, mempermalukan entitas tersebut di mata publik dan menunjukkan kelemahan dalam postur keamanan siber mereka.
Selain serangan terhadap ketersediaan jaringan, ''defacement'' situs web tetap menjadi taktik visual yang populer. Dalam skenario ini, peretas mengeksploitasi kerentanan keamanan web, seperti ''SQL Injection'' atau ''Cross-Site Scripting'' (XSS), untuk mendapatkan akses administratif dan mengganti halaman muka situs dengan pesan manifesto atau propaganda. Meskipun dampak teknisnya sering kali bersifat sementara dan mudah diperbaiki, dampak reputasi terhadap organisasi yang menjadi korban bisa sangat signifikan, mempermalukan entitas tersebut di mata publik dan menunjukkan kelemahan dalam postur keamanan siber mereka.