Nuh: Perbedaan antara revisi
| (1 revisi perantara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan) | |||
| Baris 24: | Baris 24: | ||
Klasifikasi ini, meskipun tidak sepenuhnya sejalan dengan linguistik atau genetika modern, merupakan cara masyarakat kuno memetakan hubungan antarbangsa dan keragaman etnis yang mereka kenal pada masa itu. | Klasifikasi ini, meskipun tidak sepenuhnya sejalan dengan linguistik atau genetika modern, merupakan cara masyarakat kuno memetakan hubungan antarbangsa dan keragaman etnis yang mereka kenal pada masa itu. | ||
== Studi Perbandingan Mitologi == | == Studi Perbandingan Mitologi == | ||
| Baris 38: | Baris 34: | ||
Selama berabad-abad, banyak ekspedisi telah dilakukan untuk menemukan sisa-sisa fisik Bahtera Nuh, sebuah upaya yang dikenal sebagai ''arkeologi bahtera''. Situs yang paling populer adalah anomali [[Durupinar]], sebuah formasi geologis di dekat Gunung Ararat yang menyerupai bentuk lambung kapal raksasa. Meskipun foto udara dan pemindaian radar tanah (GPR) telah dilakukan, konsensus ilmiah geologi arus utama menyatakan bahwa formasi tersebut adalah fenomena alam (lipatan sinklinal) dan bukan struktur buatan manusia. Sampai saat ini, belum ada bukti arkeologis definitif yang telah diverifikasi secara akademis mengenai keberadaan fisik bahtera tersebut. | Selama berabad-abad, banyak ekspedisi telah dilakukan untuk menemukan sisa-sisa fisik Bahtera Nuh, sebuah upaya yang dikenal sebagai ''arkeologi bahtera''. Situs yang paling populer adalah anomali [[Durupinar]], sebuah formasi geologis di dekat Gunung Ararat yang menyerupai bentuk lambung kapal raksasa. Meskipun foto udara dan pemindaian radar tanah (GPR) telah dilakukan, konsensus ilmiah geologi arus utama menyatakan bahwa formasi tersebut adalah fenomena alam (lipatan sinklinal) dan bukan struktur buatan manusia. Sampai saat ini, belum ada bukti arkeologis definitif yang telah diverifikasi secara akademis mengenai keberadaan fisik bahtera tersebut. | ||