<?xml version="1.0"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xml:lang="id">
	<id>https://inibudi.or.id/wiki/index.php?action=history&amp;feed=atom&amp;title=Murabahah</id>
	<title>Murabahah - Riwayat revisi</title>
	<link rel="self" type="application/atom+xml" href="https://inibudi.or.id/wiki/index.php?action=history&amp;feed=atom&amp;title=Murabahah"/>
	<link rel="alternate" type="text/html" href="https://inibudi.or.id/wiki/index.php?title=Murabahah&amp;action=history"/>
	<updated>2026-04-20T08:06:30Z</updated>
	<subtitle>Riwayat revisi halaman ini di wiki</subtitle>
	<generator>MediaWiki 1.43.0</generator>
	<entry>
		<id>https://inibudi.or.id/wiki/index.php?title=Murabahah&amp;diff=22932&amp;oldid=prev</id>
		<title>Budi: ←Membuat halaman berisi &#039;&#039;&#039;&#039;Murabahah&#039;&#039;&#039; (bahasa Arab: مرابحة) adalah sebuah konsep dalam hukum Islam (Syariah) yang merujuk pada jenis akad jual beli tertentu di mana penjual secara eksplisit mengungkapkan biaya perolehan barang dan jumlah keuntungan (&#039;&#039;margin&#039;&#039;) yang diinginkan kepada pembeli. Dalam konteks ekonomi Islam modern, murabahah telah menjadi salah satu instrumen pembiayaan yang paling dominan digunakan oleh bank syariah di seluruh dunia untuk memfasilitasi...&#039;</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://inibudi.or.id/wiki/index.php?title=Murabahah&amp;diff=22932&amp;oldid=prev"/>
		<updated>2025-12-13T22:42:58Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;←Membuat halaman berisi &amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Murabahah&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; (bahasa Arab: مرابحة) adalah sebuah konsep dalam &lt;a href=&quot;/wiki/index.php?title=Hukum_Islam&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1&quot; class=&quot;new&quot; title=&quot;Hukum Islam (halaman belum tersedia)&quot;&gt;hukum Islam&lt;/a&gt; (Syariah) yang merujuk pada jenis akad jual beli tertentu di mana penjual secara eksplisit mengungkapkan biaya perolehan barang dan jumlah keuntungan (&amp;#039;&amp;#039;margin&amp;#039;&amp;#039;) yang diinginkan kepada pembeli. Dalam konteks &lt;a href=&quot;/wiki/index.php?title=Ekonomi_Islam&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1&quot; class=&quot;new&quot; title=&quot;Ekonomi Islam (halaman belum tersedia)&quot;&gt;ekonomi Islam&lt;/a&gt; modern, murabahah telah menjadi salah satu instrumen pembiayaan yang paling dominan digunakan oleh &lt;a href=&quot;/wiki/index.php?title=Bank_syariah&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1&quot; class=&quot;new&quot; title=&quot;Bank syariah (halaman belum tersedia)&quot;&gt;bank syariah&lt;/a&gt; di seluruh dunia untuk memfasilitasi...&amp;#039;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;b&gt;Halaman baru&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039;Murabahah&amp;#039;&amp;#039;&amp;#039; (bahasa Arab: مرابحة) adalah sebuah konsep dalam [[hukum Islam]] (Syariah) yang merujuk pada jenis akad jual beli tertentu di mana penjual secara eksplisit mengungkapkan biaya perolehan barang dan jumlah keuntungan (&amp;#039;&amp;#039;margin&amp;#039;&amp;#039;) yang diinginkan kepada pembeli. Dalam konteks [[ekonomi Islam]] modern, murabahah telah menjadi salah satu instrumen pembiayaan yang paling dominan digunakan oleh [[bank syariah]] di seluruh dunia untuk memfasilitasi pembelian aset seperti properti, kendaraan, dan bahan baku industri. Berbeda dengan pinjaman berbasis bunga (riba) yang dilarang dalam Islam, murabahah didasarkan pada transaksi riil pertukaran barang dengan harga yang disepakati di awal, yang mencakup harga pokok dan tambahan keuntungan yang diketahui oleh kedua belah pihak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Transparansi merupakan elemen fundamental dalam akad ini. Penjual diwajibkan untuk jujur mengenai harga modal barang yang dijual serta biaya-biaya lain yang timbul dalam proses pengadaannya. Jika terjadi penyembunyian fakta mengenai harga asli atau cacat pada barang, maka pembeli memiliki hak &amp;#039;&amp;#039;khiyar&amp;#039;&amp;#039; (opsi) untuk membatalkan transaksi atau melanjutkan dengan kompensasi tertentu. Keterbukaan ini membedakan murabahah dengan akad jual beli biasa (&amp;#039;&amp;#039;musawamah&amp;#039;&amp;#039;), di mana penjual tidak berkewajiban memberitahukan modal awalnya kepada pembeli.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Etimologi dan Definisi ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara etimologis, istilah murabahah berasal dari kata bahasa Arab &amp;#039;&amp;#039;ar-ribhu&amp;#039;&amp;#039; yang berarti pertumbuhan, kelebihan, atau keuntungan. Dalam terminologi [[fikih muamalah]], murabahah didefinisikan sebagai penjualan barang dengan harga sebesar biaya perolehan ditambah dengan keuntungan yang disepakati. Akad ini termasuk dalam kategori &amp;#039;&amp;#039;bay&amp;#039; al-amanah&amp;#039;&amp;#039; (jual beli amanah) karena sangat bergantung pada kejujuran penjual dalam melaporkan biaya modalnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam praktiknya, murabahah dapat dilakukan secara tunai maupun tangguh (kredit). Namun, dalam aplikasi perbankan kontemporer, skema yang paling umum digunakan adalah &amp;#039;&amp;#039;Murabahah kepada Pemesan Pembelian&amp;#039;&amp;#039; (KPP) atau &amp;#039;&amp;#039;Murabaha to the Purchase Orderer&amp;#039;&amp;#039;. Dalam skema ini, bank bertindak sebagai penjual perantara yang mengadakan barang berdasarkan permintaan spesifik dari nasabah, lalu menjualnya kembali kepada nasabah tersebut dengan pembayaran secara angsuran dalam jangka waktu tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Landasan Hukum dan Syariah ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Legitimasi murabahah bersumber dari Al-Qur&amp;#039;an dan Sunnah yang menghalalkan jual beli dan mengharamkan [[riba]]. Para ulama sepakat bahwa jual beli dengan mengambil keuntungan adalah sah selama memenuhi rukun dan syarat jual beli. Dewan Syariah Nasional (DSN) di berbagai yurisdiksi, termasuk Majelis Ulama Indonesia ([[MUI]]), telah mengeluarkan fatwa yang mengatur batasan dan mekanisme pelaksanaan murabahah agar tetap sesuai dengan prinsip syariah dan terhindar dari praktik ribawi terselubung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu syarat krusial dalam murabahah adalah kepemilikan aset. Institusi keuangan harus memiliki aset tersebut—baik secara fisik maupun konstruktif (&amp;#039;&amp;#039;qabd hukmi&amp;#039;&amp;#039;)—sebelum menjualnya kepada nasabah. Hal ini untuk mematuhi larangan Nabi Muhammad SAW mengenai &amp;quot;menjual barang yang tidak dimiliki&amp;quot;. Oleh karena itu, dalam prosedur standar, bank harus terlebih dahulu membeli barang dari pemasok sebelum akad jual beli murabahah dengan nasabah ditandatangani.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Mekanisme Transaksi Perbankan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Proses pelaksanaan murabahah dalam lembaga keuangan syariah umumnya melibatkan serangkaian tahapan yang sistematis untuk memastikan kepatuhan terhadap regulasi perbankan dan hukum Islam. Mekanisme ini dirancang untuk memisahkan antara akad pembelian aset oleh bank dan akad penjualan kepada nasabah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berikut adalah tahapan umum dalam skema pembiayaan murabahah:&lt;br /&gt;
# Nasabah mengajukan permohonan pembiayaan untuk pengadaan barang tertentu, menyertakan spesifikasi dan janji (&amp;#039;&amp;#039;wa&amp;#039;d&amp;#039;&amp;#039;) untuk membeli barang tersebut dari bank.&lt;br /&gt;
# Bank melakukan analisis kelayakan nasabah dan verifikasi terhadap pemasok atau [[vendor]] barang yang dituju.&lt;br /&gt;
# Bank membeli barang dari pemasok secara tunai dan kepemilikan barang beralih ke bank.&lt;br /&gt;
# Bank menjual barang tersebut kepada nasabah dengan akad murabahah, di mana harga jual (modal + keuntungan) dan jangka waktu pembayaran disepakati.&lt;br /&gt;
# Nasabah membayar harga barang tersebut kepada bank secara mencicil selama periode tenor yang disepakati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penting untuk dicatat bahwa risiko atas barang (seperti kerusakan atau kehilangan) berada di tangan bank selama barang tersebut belum diserahterimakan kepada nasabah. Pengalihan risiko ini merupakan justifikasi syariah atas keuntungan yang diperoleh bank, sesuai kaidah &amp;#039;&amp;#039;al-kharaj bi al-dhaman&amp;#039;&amp;#039; (hak mendapatkan hasil disebabkan oleh kewajiban menanggung risiko).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Formulasi Harga dan Keuntungan ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penentuan harga jual dalam murabahah bersifat tetap (&amp;#039;&amp;#039;fixed rate&amp;#039;&amp;#039;) setelah akad disepakati dan tidak boleh berubah selama masa perjanjian, meskipun terjadi fluktuasi suku bunga pasar atau kondisi ekonomi makro. Hal ini memberikan kepastian bagi nasabah mengenai jumlah kewajiban hutangnya. Rumus dasar untuk menentukan harga jual murabahah dapat dimodelkan secara matematis untuk transparansi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika diasumsikan &amp;lt;math&amp;gt;C&amp;lt;/math&amp;gt; adalah biaya perolehan aset (&amp;#039;&amp;#039;cost&amp;#039;&amp;#039;), dan &amp;lt;math&amp;gt;m&amp;lt;/math&amp;gt; adalah persentase keuntungan (&amp;#039;&amp;#039;margin&amp;#039;&amp;#039;) yang disepakati, maka harga jual total &amp;lt;math&amp;gt;P&amp;lt;/math&amp;gt; dapat dirumuskan sebagai berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;math&amp;gt;P = C \times (1 + m)&amp;lt;/math&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam konteks pembiayaan jangka panjang, margin keuntungan sering kali dihitung dengan mempertimbangkan &amp;#039;&amp;#039;time value of money&amp;#039;&amp;#039; dari sudut pandang ekonomi, meskipun secara fikih dianggap sebagai kompensasi atas penangguhan pembayaran. Jika pembayaran dilakukan secara angsuran selama &amp;lt;math&amp;gt;n&amp;lt;/math&amp;gt; periode, maka besaran angsuran per periode &amp;lt;math&amp;gt;A&amp;lt;/math&amp;gt; adalah:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;math&amp;gt;A = \frac{C + (C \times m)}{n}&amp;lt;/math&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlu ditekankan bahwa variabel &amp;lt;math&amp;gt;m&amp;lt;/math&amp;gt; (margin) dalam murabahah harus berupa nominal absolut yang disepakati di awal, bukan persentase yang mengambang (&amp;#039;&amp;#039;floating&amp;#039;&amp;#039;) yang dikaitkan dengan indeks suku bunga masa depan setelah akad terjadi. Meskipun bank dapat menggunakan &amp;#039;&amp;#039;benchmark&amp;#039;&amp;#039; seperti LIBOR atau JIBOR sebagai acuan internal dalam menetapkan margin awal, angka final dalam kontrak haruslah jelas dan tidak berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Manajemen Risiko ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun murabahah dianggap sebagai produk pembiayaan dengan risiko yang relatif rendah dibandingkan akad bagi hasil ([[Musyarakah]] atau Mudharabah), bank syariah tetap menghadapi berbagai risiko inheren. Risiko utama meliputi risiko kredit (kegagalan nasabah membayar angsuran), risiko pasar (perubahan harga aset sebelum dijual ke nasabah), dan risiko kepatuhan syariah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk memitigasi risiko pembatalan sepihak oleh nasabah setelah bank membeli barang, bank syariah diperbolehkan meminta uang muka (&amp;#039;&amp;#039;urbun&amp;#039;&amp;#039;) atau hamish jiddiyah (deposit keseriusan). Jika nasabah membatalkan pembelian, bank dapat menutupi kerugian riil yang dialami dari deposit tersebut. Namun, jika bank gagal menyediakan barang, uang muka harus dikembalikan sepenuhnya kepada nasabah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Kritik dan Tantangan Kontemporer ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penerapan murabahah dalam industri perbankan modern tidak lepas dari kritik. Sejumlah sarjana ekonomi Islam mengkritik dominasi murabahah yang berlebihan dalam portofolio bank syariah, yang sering kali mencapai 60% hingga 80% dari total pembiayaan. Kritik ini didasarkan pada argumen bahwa bank syariah seharusnya lebih berfokus pada kemitraan investasi riil (&amp;#039;&amp;#039;profit and loss sharing&amp;#039;&amp;#039;) daripada sekadar menjadi perantara dagang yang meniru hasil finansial dari pinjaman konvensional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu, penggunaan akad wakalah (perwakilan) dalam murabahah sering menjadi sorotan. Dalam praktiknya, bank sering mewakilkan nasabah untuk membeli barang itu sendiri dari pemasok. Meskipun hal ini dibolehkan dengan syarat-syarat ketat, praktik ini berpotensi mereduksi murabahah menjadi sekadar pembiayaan uang semata jika tidak diawasi dengan ketat, sehingga mengaburkan batas antara jual beli syariah dan pinjaman ribawi.&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>Budi</name></author>
	</entry>
</feed>